TUGAS FONOLOGI 1
A.
Sifat bahasa
Sifat-sifat bahasa diantaranya:
·
1.
Bahasa kepada ahli-ahli linguistik adalah suatu sistem lambang-lambang
pertuturan yang arbitrari yang digunakan oleh ahli-ahli sesebuah masyarakat
untuk bergotong-royong dan bekerjasama (Raja Mukhtaruddin, 1982, hlm. 33).
DEFINISI DAN LINGUISTIK
·
2.
BAhASA SEBAGAI SATU SISTEm • Bahasa mempunyai susunan yang tertentu, samada
dalam bentuk bunyi-bunyi perkataan, susunan perkataan , nahu atau bentuk
sintaksis. • Terdapat beberapa unit tertentu yang dicantumkan menjadi satu
susunan yang sempurna dari segi strukturnya (klausa, ayat, kata). • Tidak semua
pencatuman unit-unit itu boleh dilakukan, melainkan mengikut cara-cara
tertentu.
·
3.
• Sistem yang dimaksudkan ialah aturan. • Sistem itu telah ditetapkan oleh
susunan bahasa. • Setiap bahasa mempunyai bahasa masing- masing. • Sebagai
contoh :
·
4.
BAHASA MELAYU 1. buku itu 2.sebuah buku merah 3.pensel ini BAHASA INGGERIS 1.
that car (kereta itu) 2.three red books (tiga buah bukuyang merah) 3.the beautiful
book (buku yang cantik itu)
·
5.
BAhASA BErSIFAT DINAmIS • Bahasa adalah berubah dan berkembang selagi
penuturnya bergaul dan berinteraksi dengan manusia lain. • Pertembungan
kebudayaan, pertembungan manusia dengan manusia lain menyebabkan pertambahan dan
pengurangan perbendaharaan kata sesuatu bahasa itu. • Walaupun begitu, struktur
dan tatabahasanya tidak berubah.
·
6.
BAhASA BErSIFAT ArBITrArI • Arbitrari ialah pertalian sesuatu bentuk atau
lambang dalam bahasa dengan makna yang diberikan secara kebetulan dan
ditentukan oleh budaya sesuatu masyarakat. • Tidak semestinya ada hubungan
antara bunyi yang dilafazkan dengan benda-benda yang dimaksudkan. • Oleh kerana
sifat-sifat arbitrari inilah maka kita dapati tiap-tiap bahasa mempunyai
perkataan yang berlainan bagi benda-benda sama.
·
7.
• Sebagai contoh : • dalam Bahasa Melayu itu dipanggil “pintu” • dalam Bahasa
Inggeris dipanggil “door” • “puerta” dalam Bahasa Sepanyol.
·
8.
BAhASA SEBAGAI ALAT BErKomUNIKASI • Proses komunikasi ialah adanya maklumat
yang hendak di sampaikan oleh penutur kepada pendengar. • Faktor yang mengubah
bahasanya. – Pendengar : orang yang dilawan bercakap. – Tempat : situasi
sekeliling dimana pertuturan itu mengambil tempat, termasuklah benda-benda yang
berada di sekitarnya. – Butir pertuturan : tajuk percakapan antara penutur
dengan pendengar sama ada terdiri daripada hal-hal peribadi atau rasmi.
·
9.
Bahasa mempunyai makna • Makna berarti yang dimaksudkan dan yang dipercakapkan.
• Sesuatu perkataan yang diujarkan mempunyai maksud.
·
10.
Bahasa itu linear • Bunyi-bunyi itu dihasilkan satu demi satu, iaitu dengan
pergerakan alat-alat artikulasi satu demi satu. • Sebagai contoh untuk menyebut
kalam , bunyi- bunyi yang dihasilkan ialah ‘k’, ’ a’, ’l’, ’a’, dan ‘m’. • Ini
dikatakan linear dimana apa yang ingin dituturkan disebut satu demi satu untuk
melambangkan sesuatu bunyi.
A.
Fungsi
Bahasa
Menurut
Felicia (2001 : 1), dalam berkomunikasi sehari-hari, salah satu alat
yang
paling sering digunakan adalah bahasa, baik bahasa lisan maupun bahasa tulis.
Begitu
dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga tidak
dirasa
perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih jauh.
Akibatnya,
sebagai pemakai bahasa, orang Indonesia tidak terampil menggunakan
bahasa.
Suatu kelemahan yang tidak disadari.
Komunikasi
lisan atau nonstandar yang sangat praktis menyebabkan kita
tidak
teliti berbahasa. Akibatnya, kita mengalami kesulitan pada saat akan
menggunakan
bahasa tulis atau bahasa yang lebih standar dan teratur. Pada saat
dituntut
untuk berbahasa’ bagi kepentingan yang lebih terarah dengan maksud
tertentu,
kita cenderung kaku. Kita akan berbahasa secara terbata-bata atau
mencampurkan
bahasa standar dengan bahasa nonstandar atau bahkan,
mencampurkan
bahasa atau istilah asing ke dalam uraian kita. Padahal, bahasa
bersifat
sangat luwes, sangat manipulatif. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa
untuk
kepentingan dan tujuan tertentu. Lihat saja, bagaimana pandainya
orang-orang
berpolitik melalui bahasa. Kita selalu dapat memanipulasi bahasa
untuk
kepentingan dan tujuan tertentu. Agar dapat memanipulasi bahasa, kita harus
mengetahui
fungsi-fungsi bahasa.
Pada
dasarnya, bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan
berdasarkan
kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri,
sebagai
alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan
beradaptasi
sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk
melakukan
kontrol sosial (Keraf, 1997: 3).
Derasnya
arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula pada
perkembangan
dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung pertumbuhan
dan
perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam era
globalisasi
itu, bangsa Indonesia mau tidak mau harus ikut berperan di dalam dunia
persaingan
bebas, baik di bidang politik, ekonomi, maupun komunikasi.
Konsep-konsep
dan istilah baru di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan
dan teknologi (iptek) secara tidak langsung memperkaya khasanah
bahasa
Indonesia. Dengan demikian, semua produk budaya akan tumbuh dan
berkembang
pula sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan ilmu
pengetahuan
dan teknologi itu, termasuk bahasa Indonesia, yang dalam itu,
sekaligus
berperan sebagai prasarana berpikir dan sarana pendukung pertumbuhan
dan
perkembangan iptek itu (Sunaryo, 1993, 1995).
Menurut
Sunaryo (2000 : 6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa
Indonesia)
iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia
di
dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda,
yaitu
sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana
berfikir
dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan
teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi
tidak
akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar,
menjadikan
bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika cermat
dalam
menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena bahasa
merupakan
cermin dari daya nalar (pikiran).
Hasil
pendayagunaan daya nalar itu sangat bergantung pada ragam bahasa
yang
digunakan. Pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar
akan
menghasilkan buah pemikiran yang baik dan benar pula. Kenyataan bahwa
bahasa
Indonesia sebagai wujud identitas bahasa Indonesia menjadi sarana
komunikasi
di dalam masyarakat modern. Bahasa Indonesia bersikap luwes
sehingga
mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana komunikasi masyarakat
modern.
4.1 Bahasa sebagai Alat Ekspresi
Diri
Pada
awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan
kehendaknya
atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam
perkembangannya,
seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk
mengekspresikan
kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan 6
lingkungan
di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik
untuk
mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis
mengekspresikan
dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun
adalah
sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan
kemampuannya
dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk
mengekspresikan
diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagai
contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku, merupakan hasil
ekspresi
diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca
kita.
Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah
tulisan
itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat
kepada
orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan.
Kita
memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati
dibandingkan
dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.
Pada
saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si
pemakai
bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang
menjadi
pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan
bahasa
hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi
berikutnya,
yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai
alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara
terbuka
segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk
memaklumkan
keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara
lain
:
-
agar menarik perhatian orang lain terhadap kita,
-
keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
Pada
taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang
sebagai
alat untuk menyatakan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).
4.2 Bahasa sebagai Alat Komunikasi
Komunikasi
merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri.
Komunikasi
tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau
dipahami
oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi 7
semua
yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh
orang-orang
yang sezaman dengan kita.
Sebagai
alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud
kita,
melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama
dengan
sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan,
merencanakan
dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).
Pada
saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah
memiliki
tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin
menyampaikan
gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat
orang
lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain.
Lebih
jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal
ini
pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita.
Kita
menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan
khalayak
sasaran kita.
Pada
saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita
juga
mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh
karena
itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya,
kata
makro hanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu,
namun
kata besar atau luas lebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata
griya,
misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumah atau wisma.
Dengan
kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif
karena
bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makro akan memberi
nuansa
lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas,
atau
nuansa tradisional.
Bahasa
sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula
merupakan
alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat
menunjukkan
sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa
dan
negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri
kita,
baik
sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.
4.3 Bahasa sebagai Alat Integrasi
dan Adaptasi Sosial
Bahasa
disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula
manusia
memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan
mengambil
bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan
dengan
orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat hanya dapat dipersatukan
secara
efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh
memungkinkan
tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial
yang
dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan
menghindari
sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi
yang
setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna
bagi
tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara
berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi
pula
sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada
lingkungan
sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan
bergantung
pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan
bahasa
yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa
yang
nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar
pada
orang tua atau orang yang kita hormati.
Pada
saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari
bagaimana
cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita
akan
menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan.
Bilamanakah
kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata
Kamu
atau Saudara atau Bapak atau Anda? Bagi orang asing, pilihan kata itu
penting
agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan
sampai
ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula
jika
kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata
cara
berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu
bangsa,
kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.
4.4 Bahasa sebagai Alat Kontrol
Sosial
Sebagai
alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat
diterapkan
pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan,
informasi,
maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran
dan
buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat
kontrol
sosial.
Ceramah
agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai
alat
kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat
kontrol
sosial.
Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di
televisi
dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah
satu
wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan
kegiatan
berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh
pandangan
baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita
belajar
untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu
hal.
Contoh
fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita
terapkan
adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu
cara
yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa
dongkol
dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa
marah
kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara
lebih
jelas dan tenang.
Adapun
fungsi bahasa yang lain adalah :
A. Primer : sebagai alat
komunikasi antar individu.
B. Sekunder
1. Fungsi personal, yaitu fungsi bahasa
untuk menyatakan diri.
2. Fungsi interpersonal, yaitu fungsi
bahasa untuk menjalin hubungan dengan orang lain.
3. Fungsi direktif, yaitu fungsi bahasa
untuk meminta seseorang melakukan suatu hal.
4. Fungsi refrensial, yaitu fungsi bahasa
untuk melambangkan hal-hal baru.
5. Fungsi estetik, yaitu fungsi bahasa
untuk menyatakan keindahan
6. Fungsi phatic, yaitu fungsi bahasa
sebagai alat untuk membuat ikatan sosial.
0 komentar:
Posting Komentar