Jumat, 28 Februari 2014

TUGAS FONOLOGI MINGGU KEDUA

TUGAS FONOLOGI MINGGU KEDUA
*Mencari kasus tentang kegagapan, kelumpuhan otak, afasia dan disleksia
Informasi umum mengenai Kegagapan
Apa Kegagapan itu?
Kegagapan adalah sebuah gangguan bicara pada seseorang dimana dia mengetahui apa yang ingin dikatakan tetapi pada saat tersebut dia tidak dapat mengatakannya.
Ketika banyak orang berpikir mengenai gagap, mereka memikirkan kata-kata atau bagian dari kata-kata yang diulang-ulang. Pengulangan ini terjadi pada kegagapan, tetapi anda kemudian menyadari bahwa terdapat hal lain yang ikut mempengaruhi. Kegagapan adalah masalah bicara yang kompleks, yang menyertakan banyak pola bicara yang berbeda dan gerakan tubuh yang menginterupsi aliran kata-kata. Berjuang untuk berbicara, cemas akan berbicara dan menghindari kata-kata dan situasi pembicaraan juga berhubungan dengan kegagapan.
Hal-hal yang memisahkan diri anda dengan orang-orang yang tidak gagap adalah suatu perasaan dimana anda tidak memiliki kendali atas bicara anda. Hal ini berarti bahwa ketika anda ingin berbicara, anda tidak bisa mengatakan apa yang ingin anda katakan.
Jenis-Jenis Kegagapan
Blocks atau tertahan : Terjadi ketika anda berhenti berbicara sebelum mengeluarkan suara atau ketika berbicara atau ketika mengucapkan sebuah kata. Hal ini terjadi karena aliran udara, suara, dan otot yang terlibat ketika berbicara tiba-tiba berhenti berkerja sama dan menjadi terhenti.
Pengulangan : Pengulangan terjadi ketika suara, silabel atau sebuah kata diucapkan berulang-ulang. Contohnya:
  • Pengulangan pada suara (p-p-p-pulpen)
  • Silabel (pup-pup-pup-pulpen)
  • Kata-kata (pulpen-pulpen-pulpen)
  • Kalimat (pulpennya-pulpennya-pulpennya warna biru)
Perpanjangan: Terjadi ketika anda memanjangkan suara pada saat di awal kata. contohnya: ‘s—–>aya’ atau di dalam kata, contohnya ‘sa—–>ya’. Suara dari aliran nafas keluar tetapi otot yang terlibat untuk menghasilkan kata-kata tidak dapat bergerak.
Berhenti ketika berbicara: Terjadi ketika diam dan bicara yang tidak terkendali. Jeda akan terjadi setelah kata-kata atau di dalam kata-kata.
Orang selalu melakukan sesuatu untuk menyembunyikan kegagapan mereka. Apakah anda melakukan salah satu hal ini?
  • Menghindari kata-kata tertentu, suara atau situasi percakapan – Untuk menyembunyikan kegagapan, anda menggunakan kata-kata lainnya, atau membuang beberapa kata tertentu, hingga gagapnya hilang. Anda mungkin akan menghindari situasi pembicaraan yang anda pikir akan membuat anda gagap, seperti pergi dengan teman atau memesan makanan di restoran.
  • Berjuang dan berusaha – anda mungkin memiliki perasaan tertekan pada beberapa bagian wajah atau tubuh anda, contohnya rahang, pipi, bibir, kepala dan dada anda.
  • Menggerakan bagian tubuh lainnya – Anda mungkin memajukan kepala kedepan dan kebelakang, menggerakkan lengan anda, kaki atau tangan, menutup atau mengedipkan mata anda atau bagian lain dari tubuh anda untuk membantu mengeluarkan suara.
  • Pernafasan yang terganggu dan tidak normal – Ketika anda menyadari akan gagap, anda mungkin akan menahan nafas anda, menarik beberapa nafas atau menunjukkan pola pernafasanyang tidak normal.
Apakah yang menyebabkan kegagapan?
Kegagapan adalah pada koordinasi pada bicara, bagaimanapun sebab yang sesungguhnya belum diketahui. Penelitian menunjukkan bahwa kegagapan terjadi di dalam keluarga.
Untuk bicara yang terkoordinasi, otak anda mengirim pesan kepada otot bicara anda dengan sangat cepat dan mereka meresponnya dengan bergerak sangat cepat. Jadi bagi anda yang berbicara lancar, otot bicara anda berkerja dengan baik. Berbicara membutuhkan urutan yang sangat spesifik dari koordinasi pada pergerakan otot. Bagi orang yang gagap, urutan ini terganggu.
Kegagapan adalah seperti aktifitas motorik lainnya seperti mengendarai sepeda. Ketika anda gembira, grogi atau lelah, mengendari sepeda tidak sebaik pada saat normal. Hal ini sama dengan kegagapan – dapat meningkat ketika orang tersebut letih, gembira, atau grogi.
Kapan kegagapan mulai muncul?
Kegagapan mulai muncul bisa secara bertahap atau tiba-tiba. Ketika pertama kali muncul, ukuran kegagapan bisa dari sedang hingga parah.
Kegagapan umumnya mulai ketika masa kanak-kanak diantara umur 2 dan 5 tahun.
Kegagapan umumnya muncul pada waktu ketika anak-anak mulai merangkaikan kata-kata. Pengulangan kata umumnya adalah tanda awal dari kegagapan pada hampir setiap anak, lebih lanjut tipe lain dari kegagapan mungkin juga muncul di awal.
Siapakah yang terkena efek kegagapan?
  • Hampir remaja putra tiga kali lebih banyak dari remaja putri dalam kegagapan.
  • Kegagapan terjadi pada semua kultur dan latar belakang.
——————————————-

2.Kelumpuhan Otak
Lumpuh otak (bahasa Inggriscerebral palsy, spastic paralysis, spastic hemiplegia, spastic diplegia, spastic quadriplegia, CP) adalah suatu kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaranpenglihatan, kemampuan berpikir.[1]
Penyebab lumpuh otak sampai saat ini belum dapat dipastikan,[2] banyak orang beranggapan bahwa CP disebabkan oleh karena:
·         Bayi lahir prematur sehingga bagian otak belum berkembang dengan sempurna.
·         Bayi lahir tidak langsung menangis sehingga otak kekurangan oksigen saat dalam kandungan (bahasa Inggrishypoxia)
·         Adanya cacat tulang belakang dan pendarahan di otak.
Jenis-jenis lumpuh otak
Secara umum lumpuh otak dikelompokkan dalam empat jenis yaitu:
·         Spastik (tipe kaku-kaku) dialami saat penderita terlalu lemah atau terlalu kaku. Jenis ini adalah jenis yang paling sering muncul. Sekitar 65 persen penderita lumpuh otak masuk dalam tipe ini.
·         Atetoid terjadi dimana penderita yang tidak bisa mengontrol gerak ototnya, biasanya mereka punya gerakan atau posisi tubuh yang tidak biasa.
·         Kombinasi adalah campuran spastic dan athetoid.
·         Hipotonis terjadi pada anak-anak dengan otot-otot yang sangat lemah sehingga seluruh tubuh selalu terkulai. Biasanya berkembang menjadi spastic atau athetoid.
Lumpuh otak juga bisa berkombinasi dengan gangguan epilepsi, mental, belajar, penglihatan, pendengaran, maupun bicara.
Ciri-ciri[
Gejala lumpuh otak sudah bisa diketahui saat bayi berusia 3-6 bulan, yakni saat bayi mengalami keterlambatan perkembangan.
Ciri umum dari anak lumpuh otak adalah:
·         Perkembangan motorik yang terlambat.
·         Refleks yang seharusnya menghilang tapi masih ada seperti:
·         Refleks menggenggam hilang saat bayi berusia 3 bulan
·         Bayi yang berjalan jinjit atau merangkak dengan satu kaki diseret.
Terapi[
Sampai saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan lumpuh otak. Namun tetap ada harapan untuk mengoptimalkan kemampuan anak lumpuh otak dan membuatnya mandiri dengan terapi.
Terapi yang diberikan pada penderita lumpuh otak akan disesuaikan dengan:
·         Usia anak
·         Berat/ ringan penyakit
·         Menimbang dari area pada otak mana yang rusak.
Meski ada bagian otak yang rusak, namun sel-sel yang bagus akan menutupi sel-sel yang rusak, dengan cara mengoptimalkan bagian otak yang sehat seperti pemberian rangsangan agar otak anak berkembang baik. Rangsangan/ stimulasi otak secara intensif bisa dilakukan melalui panca indera. Salah satu cara adalah dengan Compensatory Dendrite Sprouting yaitu rangsangan agar dendrittersebar dengan berimbang.
Beberapa orangtua yang memiliki anak penderita lumpuh otak mengaku berhasil mengoptimalkan kemampuan anaknya lewat metodeGlenn Doman . Metode ini digunakan untuk anak dengan cedera otak berupa patterning (pola) untuk melatih :
·         Gerakan kaki dan tangan (merayap, merangkak)
·         Menghirup oksigen (masking) untuk melatih paru-paru agar membesar.
Sejak tahun 1998, lebih dari 1700 anak cedera otak mengalami perbaikan cukup berarti setelah melakukan terapi ini.





Istilah-istilah Kesulitan/Gangguan Bahasa
Ganguan atau kesulitan berbagahasa sering dikaitkan dengan penyakit yang menyebabkan terjadinya gangguan dalam berkomunikasi. Oleh karena itu, jika penguasaan bahasa mendapat gangguan, maka komunikasinyapun terganggu. Berikut ini dikemukakan istilah-istilah tersebut:
1. Aphasia. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan hilangnya kemampuan berbahasa seseorang karena adanya gangguan pada sistem syaraf pusat. Gangguan ini dapat disebabkan oleh cidera pada kulit otak yang terjadi karena kecelakaan, benturan yang keras, atau stroke. Gangguan ini bersifat multi dimensi, sehingga kemampuan menggunakan atau menguasai simbol seolah-olah lenyap. Parahnya ketidakmampuan yang diakibatkan bergantung dari letak cidera atau luka, umur serta kondisi kesehatan ketika terjadinya cidera tersebut. Aphasia banyak jenisnya, paling tidak dapat diklasifikasikan kedalam 4 jenis, yaitu:
a. Aphasia Sensoris atau (aphasia reseptif, fluent aphasia, word deafness, wernickes aphasia). Yaitu mengalami kesulitan dalam memberi makna rangsangan yang diterimanya.
b. Aphasia motoris atau (aphasia ekspresif, broca aphasia), yaitu mengalami kesulitan dalam mengkoordinasikan atau menyusun pikiran, perasaan dan kemauan menjadi symbol-simbol yang bermakna dan dimengerti oleh orang lain.
c. Aphasia konduktif atau (dynamic aphasia, transcorticak sensory aphasia), yaitu megalami kesulitan dalam meniru pengulangan bunyi-bunyi bahasa.
d. Aphasia Amnesic atau nominal aphasia atau anomia, yaitu kesulitan dalam memilih dan menggunakan symbol-simbol yang tepat (Tarmansyah, 1995., p. 94)
2. Dyslexia. Gangguan ini berkaitan dengan hilangnya kemampuan untuk membaca. Gangguan ini terjadi karena tidak berfungsinya secara normal syaraf yang berhubungan atau yang mengatur kemampuan membaca. Dyslexia sering disebut sebagai ”word blindness” (kebutaan akan kata-kata) karena penderita seolah-olah tidak mengenal kata-kata yang dibacanya. Gangguan ini mencakup berbagai variasi dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, dari yang paling ringan sampai yang paling parah. Hakikat dyslexia terletak pada kebingungan dan kesulitan yang dialami seseorang selama karena ia seolah-olah tidak mengenal bunyi, arti, ataupun ejaan dari kata yang dilihatnya (Ramma, S., 1993)


Tugas Fonologi ketiga

TUGAS FONOLOGI 3
A.    Linguistik Teoretis dan Terapan

Ditinjau dari sudut tujuan, linguistik dapat dibagi atas dua bidang, yaitu linguistik
teoritis dan terapan
1) Linguistik teoritis, yaitu bidang linguistik yang mengkaji dan mengupas bahasa untuk
mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa. Linguistik teoritis ada ada
yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Linguistik yang bersifat umum
biasanya disebut linguistik umum yang berusaha memahami ciri-ciri umum dari
berbagai bahasa. Linguistik teoritis yang khusus berusaha menyelidiki ciri-ciri khusus
dalam bahasa tertentu saja. Linguistik teoritis mencakup: linguistik deskriptif,
linguistik historis komparatif. Pembagian ini dirinci satu persatu sebagi berikut:
a. Linguistik teoritis adalah cabang llinguistik yang memusatkan perhatian pada
teori umum dan metode-metode umum dalam penyelidikan bahasa.
b. Linguistik deskriptif disebut juga linguistik sinkronis adalah bidang linguistik
yang menyelidiki sistem bahasa pada waktu tertentu saja. Misalnya: bahasa
Indonesia dewasa ini, bahasa Inggris yang dipakai oleh shakepeare, dan
sebagainya tanpa memperhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu. Cabang
ini terbagi atas (1) fonologi deskriptif, (2) morfologi deskriptif, (3) sintaksis
deskriptif, (4) leksikologi deskriptif.
Fonologi meneliti tentang ciri-ciri bunyi dan fungsi bunyi. Morfologi menyelidiki
tentang kata, unsur, dan proses pembentukannya, sintaksis menyelidiki satuan
antara satuan-satuan itu. Morfologi dan sintaksis termasuk dalam tataran tata
bahasa atau gramatika. Leksikologi menyangkut perbendaharaan kata atau
leksikon.
c. Linguistik historis komparatif (diakronis) adalah linguistik yang mempelajari dan
menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa lain, serta menyelidiki
perbandingan satu bahsa dengan bahasa lain untuk menemukan bahasa purba atau
bahasa proto sebagai bahasa induk bersama. LHK terbagi pula atas bidang (1)
fonologi), (2) morfologi, (3) sintaksis, (4) leksikologi historis komparatif.
Dinyatakan pula bahwa bahasa mempunyai aspek makna atau aspek semantis.
Penyelidikan tentang aspek ini baik yang bersifat teoritis umum maupun yang
bersifat deskriptif dan bersifat historis komparatif, disebut semantik. Bidang ini
sering disebut semantik linguistik, untuk membedaknnya dengan semantic filosofis, yakni cabang ilmu filsafat yang juga menyelidiki makna.
2) Linguistik Terapan (appllied linguistics) mencakup bidang: pengajaran bahasa,
penerjemahan, leksikologi, fonetik terapan, sosiolinguistik terapan, pembinaan bahasa
internasional, pembinaan bahasa khusus, linguistik medis, mekanolinguistik


B.   Penjelasan Langue, Langage dan Parole

Konsep (dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaharuan besar bagi linguistik sebelumnya. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu, Saussure mulai dengan sifat bahasa yang “berbentuk jamak dan beragam”, yang pada pandangan pertama tampak bagaikan suatu realita yang tak dapat dikelompok-kelompokkan. Di samping itu, terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bunyi, realisasi aturan-aturan, dan kombinasi tanda-tanda yang terjadi sewaktu-waktu).
Jadi, dapat dikatakan bahwa langue adalah langue dikurangi parole: itu adalah suatu institusi sosial sekaligus juga suatu sistem nilai. Sebagai sistem sosial, langue sama sekali bukan tindakan, tidak direncanakan sendiri: itulah sisi sosial dari langue.
Berlainan dengan langue yang merupakan institusi dan sistem, parole terutama merupakan suatu tindakan individual yang merupakan seleksi dan aktualisasi; parolepertama-tama terdiri dari “kombinasi dan berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakan kode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiran pribadinya” (pengertian parole yang luas ini dapat disebut wacana).
Langue dan parole: istilah ini masing-masing tidak dapat mempunyai makna sepenuhnya kecuali dengan proses dialektik yang menghubungkannya satu sama lain: tidak ada languetanpa parole, dan tak ada parole yang berada di luar langue, dalam hubungan inilah terletak aktivitas linguistik yang sebenarnya.
Pemisahan langue dan parole membentuk essensi analisis linguistik; namun, akan sia-sialah mengusulkan secara tergesa-gesa pemisahan semacam ini untuk sistem objek, gambar, atau sikap yang belum dipelajari dari segi semantik.Hubungan antara langue danparole di sini akan cukup dekat dengan hubungan yang ditemukan dalam langage: secara garis besar, dapat dikatakan bahwa penggunaan parole, yaitu semacam pengendapannya, membentuk langue makanan.
Yang dilakukan secara arbitrer dalam perspektif langue/parole, dapat dikemukakan pula beberapa saran tentang sistem objek yang memang sangat berbeda, tetapi masih mempunyai persamaan, yaitu keduanya tergantung dari kelompok pengambil keputusan (dalam produksi).Langue itu terbentuk dari aturan-aturan dalam penggabungan unsur-unsur yang berbeda dalam tahap penyusunan ruangan (dekorasi). Dalam hal ini, paroleterbentuk dari berbagai variasi yang tak berarti yang dapat dilakukan para pemakai pada suatu unsur.
Sistem-sistem yang paling menarik, setidak-tidaknya yang tercakup dalam sosiologi komunikasi massa, adalah sistem yang kompleks; di dalamnya terkait berbagai substansi.
Perluasan semiologis sistem langue/parole tidak berlangsung tanpa menimbulkan masalah. Hal itu terjadi bersamaan dengan adanya permasalahan bahwa model linguistik tak dapat diikuti lagi dan perlu diubah. Di dalam langage, tak ada yang dapat masuk ke dalam langue sebelum sebelum digunakan dalam parole, sebaliknya, tak ada parole yang mungkin hadir (artinya melaksanakan fungsi komunikasinya) bila unsur itu tidak diambil dari kekayaan langue.


Tugas Fonologi kedua

TUGAS FONOLOGI 2
A.    pengertian segmental dan suprasegmental
Elemen bahasa
a. Bunyi oral
Bunyi segmental : bunyi yang bisa di potong-potong atau dipecah
contoh : Menurut kabar burung / Ali sangat pandai.
Bunyi suprasegmental : bunyi yang tidak bisa dipecah dan berupa lagu Contoh :
- Gaya berita # … 222 # (titik)
- Gaya tanya # … 221 # (tanya)
- Lagu seru # … 223 # (seru)
b. Kineksis : gerak tubuh
Mimik : ekspresi wajah
Mimitik : gerak tangan
Gestire : gerak tubuh
Proxemics : jarak bertutur

B.     bahasa lisan dan ejaan

A. Pendahuluan
Manusia adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan kesempatan untuk bersosialisasi dengan sesama manusia yang lainnya. Hal ini sudah menjadi salah satu kebutuhan hidup, selain kebutuhan hidup pokok manusia. Komunikasi adalah salah satu cara manusia bersosialisasi. Salah satu komponen dalam berkomunikasi adalah bahasa.
Manusia menyampaikan dan mengungkapkan pikirannya kepada orang lain menggunakan bahasa. Tanpa adanya bahasa yang sama, komunikasi akan menjadi kacau. Contohnya adalah komunikasi antara orang Indonesia dengan Jepang. Jika mereka tidak mampu menggunakan bahasa yang dimengerti oleh keduanya, maka komunikasi tidak akan lancar, bahkan kemungkinan tidak dapat terlaksana. Dalam hal ini, bahasa merupakan aturan yang disepakati dan dimengerti bersama dan digunakan untuk menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaan kepada orang lain. Informasi yang benar belum tentu tersampaikan dengan benar, jika bahasa yang digunakannya tidak mengikuti kaidah yang berlaku. Hal ini bisa terjadi karena seseorang akan menerima arti atau makna dari orang yang menyampaikan informasi menurut apa yang ditangkap pikirannya sendiri dengan bahasa yang juga dimengertinya.
B. Peranan Ejaan Bagi Bahasa Tulis
B.1. Ragam Bahasa
Bahasa sebagai penyampaian pesan dan alat komunikasi ternyata mempunyai dua ragam menurut sarana atau media penyampaiannya Ragam itu adalah ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.
B.1.1. Bahasa Lisan
Bahasa lisan adalah bahasa yang disampaikan langsung oleh pembicara. Kita membutuhkan indera pendengar untuk menangkap bahasa lisan ini. Yang dibahas dalam ragam bahasa lisan adalah tata bahasa, kosakata dan pelafalan yang jelas dan benar. Bahasa lisan dapat menggunakan tinggi rendahnya suara atau tekanan, mimik muka, gerak tangan atau isyarat tubuh lainnya untuk menyampaikan gagasan atau mengungkapkan perasaan. Kalimat yang sama jika diucapkan dengan intonasi yang berbeda akan mempunyai maksud yang berbeda pula. Mimik muka sedih dan senang, dapat mewarnai dan memberi arti yang beda pada suatu kalimat yang sama.
Ciri-ciri bahasa lisan adalah:
·                     Singkat,
·                     dramatikal (dapat dibantu dengan mimik muka, intonasi, dan gerakan tubuh),
·                     dinyatakan tidak lengkap (karena tidak harus mengandung SPOK),
·                     terikat oleh ruang dan waktu.
Kelebihan dari bahasa lisan adalah:
·                     Apabila terjadi kesalahan dapat dikoreksi dengan segera,
·                     lebih cepat ditangkap maksud atau isinya, sehingga lebih cepat dalam mendapatkan tanggapan balik.
B.1.2. Bahasa Tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan media tulis dan tidak memerlukan indera pendengaran untuk menangkap maksudnya. Pengungkapan ide, pikiran dan perasaan dilakukan dengan menyusun huruf-huruf sebagai unsurnya. Huruf-huruf tersebut tersusun menjadi kata dan kalimat, yang merupakan ekspresi dari pikiran atau perasaan yang akan disampaikan.
Dalam bahasa tulis, kita akan berhubungan dengan tata cara penulisan (sering disebut dengan ejaan), tata bahasa dan kosakata (sama seperti dalam bahasa lisan). Dalam bahasa tulis, kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata, ataupun sususan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca digunakan untuk mengungkapkan ide yang dapat secara tepat dan benar ditangkap oleh pembaca, yaitu orang yang kita inginkan untuk menerima informasi tersebut. Kesalahan dalam penggunaan ejaan akan menimbulkan salah pengertian dan penafsiran dari maksud yang ingin kita sampaikan.
Ciri-ciri bahasa tulis:
·                     - tidak terikat oleh ruang dan waktu,
·                     dinyatakan dengan lengkap (karena kosakatanya harus mengandung SPO dan kemungkinan K),
·                     tidak dapat dinyatakan secara dramatikal.
Kelebihan dari bahasa tulis adalah adanya bukti otentik, sehingga apa yang sudah disampaikan dapat dilihat ulang.
B.1.3. Contoh Perbedaan Penggunaan Bahasa Lisan dan Tulis
Bahasa Lisan
Bahasa Tulis
Danto bilang kamu harus pulang
Danto memberitahukan bahwa saya harus pulang
Sony nonton bola
Sony menonton pertandingan sepakbola
Saya tinggal di Depok
Saya bertempat tinggal di Depok
Kamu pergi tidak?
Apakah kamu akan pergi atau tidak?

C. Bidang Bahasa
Bahasa tulis meliputi banyak bidang yang dipelajari, diantaranya adalah:
1. Paragraf
2. Kesusasteraan
3. Sintaksis
4. Morfologi
5. Ejaan
6. Semantik
7. Pragmatik
8. Gaya bahasa
9. Penalaran
Dalam tulis, sesuai dengan judul tulisan yaitu Peranan Ejaan dalam Bahasa Tulis, maka yang akan dibahas dibatasi hanya pada bidang bahasa tentang ejaan saja.
Ejaan adalah suatu keseluruhan sistem penulisan bunyi-bunyi bahasa yang meliputi:
·                     perlambangan fonem dengan huruf (tata bunyi),
·                     ketetapan penulisan satuan-satuan bentuk kata, misalnya kata dasar, kata ulang, kata majemuk, dan sebagainya,
·                     ketetapan cara menulis kalimat dan bagian-bagian dengan menggunakan tanda baca.
Ejaan adalah keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, lengkap dengan penggunaan tanda baca. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti ejaan adalah kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi ( yang merupakan kata, kalimat dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (yang diwakili oleh huruf-huruf) serta penggunaan tanda bacanya. Secara khusus, ejaan diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan menggunakan huruf, baik huruf demi huruf, ataupun huruf yang sudah tersusun menjadi sebuah kata, frasa, ataupun kalimat.
Aspek-aspek yang tercakup dalam ejaan antara lain adalah:
·                     penggunaan huruf,
·                     penulisan huruf kapital dan huruf miring,
·                     penulisan kata,
·                     penulisan unsur serapan,
·                     penggunaan tanda baca.
Ejaan di Indonesia telah mengalami perkembangannya semenjak awal bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa nasional. Perkembangannya adalah sebagai berikut:
a. Ejaan Van Ophusyen,
b. Ejaan Republik (ejaan Suwandi),
c. Ejaan Malindo,
d. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

D. Hubungan antara Ejaan dan Bahasa Tulis
Ejaan berfungsi untuk membantu pemahaman pembaca dalam menanggapi dan memahami sebuah informasi yang diterimanya dalam bentuk tulisan. Sebuah tulisan yang tidak sesuai dengan ejaan yang telah disepakati, dapat menimbulkan salah pengertian tentang informasi yang ingin disampaikan. Sebuah kalimat yang tidak sesuai dengan ejaan dapat menimbulkan pengertian yang bercabang atau menimbulkan multitafsir bagi yang membacanya.
Ejaan, yang merupakan kumpulan kaidah dan aturan yang mengatur tentang penggunaan huruf, tanda baca, cara penulisan dan lain-lain tersebut, dimaksudkan untuk dapat memberikan aturan baku yang dapat dipahami oleh sekumpulan orang yang menggunakannya. Hal ini karena ejaan mempunyai keteraturan dan keseragaman dalam hal bentuk dan aturan.
Dari hal-hal tersebut diatas, maka dapat disimpulkan beberapa fungsi ejaan, yaitu sebagai berikut:
a. Ejaan berfungsi sebagai landasan pembakuan tata bahasa.
b. Ejaan berfungsi sebagai landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
c. Ejaan berfungsi sebagai penyaring penetrasi unsur dari bahasa asing.
d. Ejaan berfungsi menyamakan persepsi akan sebuah tulisan, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir atau banyak tafsir.

Dari hal-hal yang telah dibahas diatas jelas sekali hubungan antara ejaan dengan bahasa tulis. Bahasa tulis akan dapat dipahami artinya secara benar, jika ejaan yang telah disepakati diterapkan dalam tulisan tersebut. Jika sebuah bahasa tulis/tulisan digunakan ejaan yang berbeda dengan yang telah disepakati, pembaca akan kebingunan mengartikan maksud dari penulis. Ejaan yang berbeda tersebut misalnya adalah penulisan kosakata yang tidak lengkap, atau penggunaan kosakata yang bukan merupakan kosakata baku. Seorang pembaca yang tidak mengenal atau mengetahui latar belakang penulis, akan mendapati pemahaman yang salah dari tulisan tersebut dan kemungkinan tidak sama seperti yang dikehendaki oleh penulisnya. Hal ini tidak akan terjadi jika seorang penyampai informasi atau penulis menyampaikan langsung informasinya dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, ketika penerima informasi tidak jelas, maka hal yang tidak jelas tersebut akan langsung dapat ditanyakan kepada penyampai informasi. Kesempatan untuk menanyakan langsung kebenaran informasi yang kurang jelas tersebut jelas tidak mungkin dilakukan dalam bahasa tulis.
Contoh kalimat: “Saya tinggal di Depok”. Kalimat ini bisa jadi mempunyai minimal 2 arti. Arti yang pertama adalah saya meninggalkan sesuatu barang di Depok, sedangkan arti yang kedua adalah saya bertempat tinggal di Depok. Jika kalimat tersebut ditulis menggunakaan ejaan sesuai aturan dalam bahasa tulis, seharusnya secara lengkap ditulis: Saya bertempat tinggal di Depok, atau Saya meninggalkan sesuatu milik saya di Depok.
E. Kesimpulan
Ejaan, yang merupakan kumpulan kaidah atau aturan dalam penulisan, sangat penting peranannya dalam bahasa tulis. Hal ini karena dalam bahasa tulis, ketidakjelasan dari penerima informasi tidak dapat disampaikan langsung kepada pemberi informasi, lain halnya dengan bahasa lisan.
Karena hal tersebut, maka suatu bahasa tulis harus memberikan informasi yang jelas dan sesuai dengan aturan yang telah disepakati, baik dalam hal penggunaan kosakata, pemilihan kata, penggunaan unsur serapan, dan terutama dengan penggunaan tanda baca. Aturan-aturan yang diterapkan dalam bahasa tulis itulah yang disebut dengan ejaan.