TUGAS
FONOLOGI 2
A.
pengertian segmental dan
suprasegmental
Elemen
bahasa
a. Bunyi oral
Bunyi segmental : bunyi yang bisa di
potong-potong atau dipecah
contoh : Menurut kabar burung / Ali sangat pandai.
contoh : Menurut kabar burung / Ali sangat pandai.
Bunyi suprasegmental : bunyi yang tidak
bisa dipecah dan berupa lagu Contoh :
- Gaya berita # … 222 #
(titik)
- Gaya tanya # … 221 #
(tanya)
- Lagu seru # … 223 # (seru)
b. Kineksis : gerak tubuh
Mimik : ekspresi wajah
Mimitik : gerak tangan
Gestire : gerak tubuh
Proxemics : jarak bertutur
B. bahasa
lisan dan ejaan
A. Pendahuluan
Manusia
adalah mahluk sosial. Sebagai mahluk sosial, manusia membutuhkan kesempatan
untuk bersosialisasi dengan sesama manusia yang lainnya. Hal ini sudah menjadi
salah satu kebutuhan hidup, selain kebutuhan hidup pokok manusia. Komunikasi
adalah salah satu cara manusia bersosialisasi. Salah satu komponen dalam
berkomunikasi adalah bahasa.
Manusia
menyampaikan dan mengungkapkan pikirannya kepada orang lain menggunakan bahasa.
Tanpa adanya bahasa yang sama, komunikasi akan menjadi kacau. Contohnya adalah
komunikasi antara orang Indonesia dengan Jepang. Jika mereka tidak mampu
menggunakan bahasa yang dimengerti oleh keduanya, maka komunikasi tidak akan
lancar, bahkan kemungkinan tidak dapat terlaksana. Dalam hal ini, bahasa
merupakan aturan yang disepakati dan dimengerti bersama dan digunakan untuk
menyampaikan gagasan, pikiran dan perasaan kepada orang lain. Informasi yang
benar belum tentu tersampaikan dengan benar, jika bahasa yang digunakannya
tidak mengikuti kaidah yang berlaku. Hal ini bisa terjadi karena seseorang akan
menerima arti atau makna dari orang yang menyampaikan informasi menurut apa
yang ditangkap pikirannya sendiri dengan bahasa yang juga dimengertinya.
B. Peranan Ejaan Bagi Bahasa
Tulis
B.1.
Ragam Bahasa
Bahasa
sebagai penyampaian pesan dan alat komunikasi ternyata mempunyai dua ragam
menurut sarana atau media penyampaiannya Ragam itu adalah ragam bahasa
lisan dan ragam bahasa tulis.
B.1.1.
Bahasa Lisan
Bahasa
lisan adalah bahasa yang disampaikan langsung oleh pembicara. Kita membutuhkan
indera pendengar untuk menangkap bahasa lisan ini. Yang dibahas dalam ragam
bahasa lisan adalah tata bahasa, kosakata dan pelafalan yang jelas dan benar.
Bahasa lisan dapat menggunakan tinggi rendahnya suara atau tekanan, mimik muka,
gerak tangan atau isyarat tubuh lainnya untuk menyampaikan gagasan atau
mengungkapkan perasaan. Kalimat yang sama jika diucapkan dengan intonasi yang
berbeda akan mempunyai maksud yang berbeda pula. Mimik muka sedih dan senang,
dapat mewarnai dan memberi arti yang beda pada suatu kalimat yang sama.
Ciri-ciri
bahasa lisan adalah:
·
Singkat,
·
dramatikal (dapat dibantu dengan
mimik muka, intonasi, dan gerakan tubuh),
·
dinyatakan tidak lengkap (karena
tidak harus mengandung SPOK),
·
terikat oleh ruang dan waktu.
Kelebihan
dari bahasa lisan adalah:
·
Apabila terjadi kesalahan dapat
dikoreksi dengan segera,
·
lebih cepat ditangkap maksud atau
isinya, sehingga lebih cepat dalam mendapatkan tanggapan balik.
B.1.2.
Bahasa Tulis
Ragam
bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan media tulis dan
tidak memerlukan indera pendengaran untuk menangkap maksudnya. Pengungkapan
ide, pikiran dan perasaan dilakukan dengan menyusun huruf-huruf sebagai
unsurnya. Huruf-huruf tersebut tersusun menjadi kata dan kalimat, yang
merupakan ekspresi dari pikiran atau perasaan yang akan disampaikan.
Dalam
bahasa tulis, kita akan berhubungan dengan tata cara penulisan (sering disebut
dengan ejaan), tata bahasa dan kosakata (sama seperti dalam bahasa lisan).
Dalam bahasa tulis, kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata, ataupun
sususan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan
penggunaan tanda baca digunakan untuk mengungkapkan ide yang dapat secara tepat
dan benar ditangkap oleh pembaca, yaitu orang yang kita inginkan untuk menerima
informasi tersebut. Kesalahan dalam penggunaan ejaan akan menimbulkan salah
pengertian dan penafsiran dari maksud yang ingin kita sampaikan.
Ciri-ciri
bahasa tulis:
·
- tidak terikat oleh ruang dan
waktu,
·
dinyatakan dengan lengkap (karena
kosakatanya harus mengandung SPO dan kemungkinan K),
·
tidak dapat dinyatakan secara
dramatikal.
Kelebihan
dari bahasa tulis adalah adanya bukti otentik, sehingga apa yang sudah
disampaikan dapat dilihat ulang.
B.1.3.
Contoh Perbedaan Penggunaan Bahasa Lisan dan Tulis
Bahasa Lisan
|
Bahasa Tulis
|
Danto bilang kamu harus pulang
|
Danto memberitahukan bahwa saya harus pulang
|
Sony nonton bola
|
Sony menonton pertandingan sepakbola
|
Saya tinggal di Depok
|
Saya bertempat tinggal di Depok
|
Kamu pergi tidak?
|
Apakah kamu akan pergi atau tidak?
|
C. Bidang Bahasa
Bahasa
tulis meliputi banyak bidang yang dipelajari, diantaranya adalah:
1. Paragraf
2. Kesusasteraan
3. Sintaksis
4. Morfologi
5. Ejaan
6. Semantik
7. Pragmatik
8. Gaya bahasa
9. Penalaran
2. Kesusasteraan
3. Sintaksis
4. Morfologi
5. Ejaan
6. Semantik
7. Pragmatik
8. Gaya bahasa
9. Penalaran
Dalam
tulis, sesuai dengan judul tulisan yaitu Peranan Ejaan dalam Bahasa Tulis, maka
yang akan dibahas dibatasi hanya pada bidang bahasa tentang ejaan saja.
Ejaan
adalah suatu keseluruhan sistem penulisan bunyi-bunyi bahasa yang meliputi:
·
perlambangan fonem dengan huruf
(tata bunyi),
·
ketetapan penulisan satuan-satuan
bentuk kata, misalnya kata dasar, kata ulang, kata majemuk, dan sebagainya,
·
ketetapan cara menulis kalimat dan
bagian-bagian dengan menggunakan tanda baca.
Ejaan
adalah keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk
pemisahan dan penggabungannya, lengkap dengan penggunaan tanda baca. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti ejaan adalah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi ( yang merupakan kata, kalimat dan sebagainya) dalam
bentuk tulisan (yang diwakili oleh huruf-huruf) serta penggunaan tanda bacanya.
Secara khusus, ejaan diartikan sebagai perlambangan bunyi-bunyi bahasa dengan
menggunakan huruf, baik huruf demi huruf, ataupun huruf yang sudah tersusun
menjadi sebuah kata, frasa, ataupun kalimat.
Aspek-aspek
yang tercakup dalam ejaan antara lain adalah:
·
penggunaan huruf,
·
penulisan huruf kapital dan huruf
miring,
·
penulisan kata,
·
penulisan unsur serapan,
·
penggunaan tanda baca.
Ejaan
di Indonesia telah mengalami perkembangannya semenjak awal bahasa Indonesia
ditetapkan sebagai bahasa nasional. Perkembangannya adalah sebagai berikut:
a. Ejaan Van Ophusyen,
b. Ejaan Republik (ejaan Suwandi),
c. Ejaan Malindo,
d. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
b. Ejaan Republik (ejaan Suwandi),
c. Ejaan Malindo,
d. Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).
D. Hubungan antara Ejaan dan
Bahasa Tulis
Ejaan
berfungsi untuk membantu pemahaman pembaca dalam menanggapi dan memahami sebuah
informasi yang diterimanya dalam bentuk tulisan. Sebuah tulisan yang tidak
sesuai dengan ejaan yang telah disepakati, dapat menimbulkan salah pengertian
tentang informasi yang ingin disampaikan. Sebuah kalimat yang tidak sesuai
dengan ejaan dapat menimbulkan pengertian yang bercabang atau menimbulkan
multitafsir bagi yang membacanya.
Ejaan,
yang merupakan kumpulan kaidah dan aturan yang mengatur tentang penggunaan
huruf, tanda baca, cara penulisan dan lain-lain tersebut, dimaksudkan untuk
dapat memberikan aturan baku yang dapat dipahami oleh sekumpulan orang yang
menggunakannya. Hal ini karena ejaan mempunyai keteraturan dan keseragaman
dalam hal bentuk dan aturan.
Dari
hal-hal tersebut diatas, maka dapat disimpulkan beberapa fungsi ejaan, yaitu
sebagai berikut:
a. Ejaan berfungsi sebagai landasan pembakuan tata bahasa.
b. Ejaan berfungsi sebagai landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
c. Ejaan berfungsi sebagai penyaring penetrasi unsur dari bahasa asing.
d. Ejaan berfungsi menyamakan persepsi akan sebuah tulisan, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir atau banyak tafsir.
b. Ejaan berfungsi sebagai landasan pembakuan kosakata dan peristilahan.
c. Ejaan berfungsi sebagai penyaring penetrasi unsur dari bahasa asing.
d. Ejaan berfungsi menyamakan persepsi akan sebuah tulisan, sehingga tidak menimbulkan salah tafsir atau banyak tafsir.
Dari
hal-hal yang telah dibahas diatas jelas sekali hubungan antara ejaan dengan
bahasa tulis. Bahasa tulis akan dapat dipahami artinya secara benar, jika ejaan
yang telah disepakati diterapkan dalam tulisan tersebut. Jika sebuah bahasa
tulis/tulisan digunakan ejaan yang berbeda dengan yang telah disepakati,
pembaca akan kebingunan mengartikan maksud dari penulis. Ejaan yang berbeda
tersebut misalnya adalah penulisan kosakata yang tidak lengkap, atau penggunaan
kosakata yang bukan merupakan kosakata baku. Seorang pembaca yang tidak
mengenal atau mengetahui latar belakang penulis, akan mendapati pemahaman yang
salah dari tulisan tersebut dan kemungkinan tidak sama seperti yang dikehendaki
oleh penulisnya. Hal ini tidak akan terjadi jika seorang penyampai informasi
atau penulis menyampaikan langsung informasinya dengan bahasa lisan. Dalam
bahasa lisan, ketika penerima informasi tidak jelas, maka hal yang tidak jelas
tersebut akan langsung dapat ditanyakan kepada penyampai informasi. Kesempatan
untuk menanyakan langsung kebenaran informasi yang kurang jelas tersebut jelas
tidak mungkin dilakukan dalam bahasa tulis.
Contoh
kalimat: “Saya tinggal di Depok”. Kalimat ini bisa jadi mempunyai minimal 2
arti. Arti yang pertama adalah saya meninggalkan sesuatu barang di Depok,
sedangkan arti yang kedua adalah saya bertempat tinggal di Depok. Jika kalimat
tersebut ditulis menggunakaan ejaan sesuai aturan dalam bahasa tulis,
seharusnya secara lengkap ditulis: Saya bertempat tinggal di Depok, atau Saya
meninggalkan sesuatu milik saya di Depok.
E. Kesimpulan
Ejaan,
yang merupakan kumpulan kaidah atau aturan dalam penulisan, sangat penting
peranannya dalam bahasa tulis. Hal ini karena dalam bahasa tulis,
ketidakjelasan dari penerima informasi tidak dapat disampaikan langsung kepada
pemberi informasi, lain halnya dengan bahasa lisan.
Karena
hal tersebut, maka suatu bahasa tulis harus memberikan informasi yang jelas dan
sesuai dengan aturan yang telah disepakati, baik dalam hal penggunaan kosakata,
pemilihan kata, penggunaan unsur serapan, dan terutama dengan penggunaan tanda
baca. Aturan-aturan yang diterapkan dalam bahasa tulis itulah yang disebut
dengan ejaan.
0 komentar:
Posting Komentar