Senin, 12 Oktober 2015

Honor Pertamaku, Ahamdulillah

                Senin, 12 Oktober 2015. Hari senin ini biasanya adalah hari aku mengajar mahasiswa jurnalistik semester 3 seperti dalam satu bulan terakhir ini. Namun berbeda dengan sebelumnya, hari ini aku tidak lagi masuk ke kelas jurnalis karena pembahasan materi sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) telah habis.

                Senin sore ini kami delapan orang yang dipilih oleh dosen jurnalistik ku pak El Wahyudi Panggabean kembali mengadakan rapat untuk pembuatan website  jurnalis. Sebelum rapat dimulai, aku dan teman-teman menunggu kehadiran pak El (sapaan biasa kami) dan si pembuat web di kantin Pace (salah satu kantin di fkip gedung C UIR). Tidak lama kami menunggu, kemudian datanglah pak El ke kantin tersebut.

                Seperti kebiasaan kami setiap bertemu Dosen maupun senior di kampus adalah mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun belum sempat kami ingin menyalam dan mencium tangannya, pak El seketika memanggilku yang sedang duduk bersama teman-teman yang lain. Dalam hati aku sempat berfikir “ada apa” bapak memanggil dan sedikit menjauh dari teman-temanku. Tak lama kemudian bapak mengambil sesuatu dari kantung celana hitamnya, yaitu berupa amplop putih.

                “Ini ada sedikit untuk kamu yang telah mengajar ke semester 3 kemarin, yah sekedarnya saja sebagai apresiasi ataupun honor mengajar” kata pak El kepadaku.

Aku lumayan kaget  dengan apa yang terjadi barusan. Hanya senyum lebar kata-kata yang belum sempat ku ucapkan pada saat itu, dan kemudian bapak melanjutkan perkataannya.

“iya ambil saja ini, sekedarnya saja” tambahnya.

(aku tersenyum sangat lebar dan sulit berkata-kata)
“eehh... ya ampun. Terimakasih banyak pak”, kataku dengan malu-malu sembari menyalam tangan Pak El.
“iya nak, sama-sama”. tutup pak El.

                Pak El pun pergi ke samping kantin karena beliau sudah dipanggil temannya sejak sebelum ia memanggilku tadi. Sementara temanku dari kursi yang berbeda di kantin itu tersenyum sambil mengejekku dengan mengeluarkan suara “ciee...ciee” mereka. Seketika itu juga mereka memintaku untuk meneraktir minum di kantin itu. Awalnya aku hanya diam dengan keinginan mereka itu. Sebab aku  juga dalam kondisi “kritis” saat itu. Aku tidak tahu berapa jumlah yang ada di amplop putih itu, namun aku berfikir itulah yang menjadi andalanku sebelum dapat kiriman dari ayah.

                Tapi apa salahnya ‘gaji’ pertama ku itu aku bagikan untuk teman-teman seperjuanganku di jurnalis ini.J bahkan doa mereka juga bagus ketika aku memberikan sedikir rezeki pada hari itu. Aku juga sangat berterimakasih sama mereka yang mendukungku dari belakang untuk mengajar.



Setelah kejadian itu dan setelah peserta rapat berkumpul semua, kamipun memulai rapat di samping kantin pace. Pada hari itu juga terbentuklah 4 anggota menjadi pengurus inti, salah satunya adalah aku. Aku menjadi pengurus wanita satu-satunya yang dipilih oleh teman-teman yang lain untuk menjadi sekretaris redaksi. Menjelang jam 6 kamipun menutup rapat tersebut, dan pulang ke kost ataupun rumah masing-masing.

Setelah sampai di kos malamnya, aku langsung menelpon Ibu di kampung untuk memberitahukan kabar bahagia ini. Begitulah kebiasaanku ketika ada sesuatu yang terjadi di sini, baik itu senang maupun sedih aku selalu mencurahkannya kepada super hero ku, Mak tercinta.

“oh alhamdulillah, semoga berkah ya nak, tetap semangat ngajar sama kuliahnya”, kata Ibuku setelah kuceritakan semuanya.

“iyaa mak, senang kali kakak. Ini baru berasa nyata kalau kakak emang dah jadi assisten dosen dan ini gaji pertama, hehehe”, jawabku dengan bahagia.

“iyaa nak, baik-baik di sana ya, hati-hati selalu”,timpal Ibu.

Begitulah seterusnya percakapanku dengan Ibu via  telfon malam itu. Ibu selalu memberi motivasinya kepadaku. Semangatku hampir 100% berasal dari wanita kuat itu. Berkat doa dan usahanya juga lah aku masih bisa melanjutkan kuliahku hingga sekarang ini.#