Jumat, 28 Februari 2014

Tugas Fonologi ketiga

TUGAS FONOLOGI 3
A.    Linguistik Teoretis dan Terapan

Ditinjau dari sudut tujuan, linguistik dapat dibagi atas dua bidang, yaitu linguistik
teoritis dan terapan
1) Linguistik teoritis, yaitu bidang linguistik yang mengkaji dan mengupas bahasa untuk
mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa. Linguistik teoritis ada ada
yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Linguistik yang bersifat umum
biasanya disebut linguistik umum yang berusaha memahami ciri-ciri umum dari
berbagai bahasa. Linguistik teoritis yang khusus berusaha menyelidiki ciri-ciri khusus
dalam bahasa tertentu saja. Linguistik teoritis mencakup: linguistik deskriptif,
linguistik historis komparatif. Pembagian ini dirinci satu persatu sebagi berikut:
a. Linguistik teoritis adalah cabang llinguistik yang memusatkan perhatian pada
teori umum dan metode-metode umum dalam penyelidikan bahasa.
b. Linguistik deskriptif disebut juga linguistik sinkronis adalah bidang linguistik
yang menyelidiki sistem bahasa pada waktu tertentu saja. Misalnya: bahasa
Indonesia dewasa ini, bahasa Inggris yang dipakai oleh shakepeare, dan
sebagainya tanpa memperhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu. Cabang
ini terbagi atas (1) fonologi deskriptif, (2) morfologi deskriptif, (3) sintaksis
deskriptif, (4) leksikologi deskriptif.
Fonologi meneliti tentang ciri-ciri bunyi dan fungsi bunyi. Morfologi menyelidiki
tentang kata, unsur, dan proses pembentukannya, sintaksis menyelidiki satuan
antara satuan-satuan itu. Morfologi dan sintaksis termasuk dalam tataran tata
bahasa atau gramatika. Leksikologi menyangkut perbendaharaan kata atau
leksikon.
c. Linguistik historis komparatif (diakronis) adalah linguistik yang mempelajari dan
menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa lain, serta menyelidiki
perbandingan satu bahsa dengan bahasa lain untuk menemukan bahasa purba atau
bahasa proto sebagai bahasa induk bersama. LHK terbagi pula atas bidang (1)
fonologi), (2) morfologi, (3) sintaksis, (4) leksikologi historis komparatif.
Dinyatakan pula bahwa bahasa mempunyai aspek makna atau aspek semantis.
Penyelidikan tentang aspek ini baik yang bersifat teoritis umum maupun yang
bersifat deskriptif dan bersifat historis komparatif, disebut semantik. Bidang ini
sering disebut semantik linguistik, untuk membedaknnya dengan semantic filosofis, yakni cabang ilmu filsafat yang juga menyelidiki makna.
2) Linguistik Terapan (appllied linguistics) mencakup bidang: pengajaran bahasa,
penerjemahan, leksikologi, fonetik terapan, sosiolinguistik terapan, pembinaan bahasa
internasional, pembinaan bahasa khusus, linguistik medis, mekanolinguistik


B.   Penjelasan Langue, Langage dan Parole

Konsep (dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaharuan besar bagi linguistik sebelumnya. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu, Saussure mulai dengan sifat bahasa yang “berbentuk jamak dan beragam”, yang pada pandangan pertama tampak bagaikan suatu realita yang tak dapat dikelompok-kelompokkan. Di samping itu, terdapat parole yang mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bunyi, realisasi aturan-aturan, dan kombinasi tanda-tanda yang terjadi sewaktu-waktu).
Jadi, dapat dikatakan bahwa langue adalah langue dikurangi parole: itu adalah suatu institusi sosial sekaligus juga suatu sistem nilai. Sebagai sistem sosial, langue sama sekali bukan tindakan, tidak direncanakan sendiri: itulah sisi sosial dari langue.
Berlainan dengan langue yang merupakan institusi dan sistem, parole terutama merupakan suatu tindakan individual yang merupakan seleksi dan aktualisasi; parolepertama-tama terdiri dari “kombinasi dan berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat menggunakan kode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiran pribadinya” (pengertian parole yang luas ini dapat disebut wacana).
Langue dan parole: istilah ini masing-masing tidak dapat mempunyai makna sepenuhnya kecuali dengan proses dialektik yang menghubungkannya satu sama lain: tidak ada languetanpa parole, dan tak ada parole yang berada di luar langue, dalam hubungan inilah terletak aktivitas linguistik yang sebenarnya.
Pemisahan langue dan parole membentuk essensi analisis linguistik; namun, akan sia-sialah mengusulkan secara tergesa-gesa pemisahan semacam ini untuk sistem objek, gambar, atau sikap yang belum dipelajari dari segi semantik.Hubungan antara langue danparole di sini akan cukup dekat dengan hubungan yang ditemukan dalam langage: secara garis besar, dapat dikatakan bahwa penggunaan parole, yaitu semacam pengendapannya, membentuk langue makanan.
Yang dilakukan secara arbitrer dalam perspektif langue/parole, dapat dikemukakan pula beberapa saran tentang sistem objek yang memang sangat berbeda, tetapi masih mempunyai persamaan, yaitu keduanya tergantung dari kelompok pengambil keputusan (dalam produksi).Langue itu terbentuk dari aturan-aturan dalam penggabungan unsur-unsur yang berbeda dalam tahap penyusunan ruangan (dekorasi). Dalam hal ini, paroleterbentuk dari berbagai variasi yang tak berarti yang dapat dilakukan para pemakai pada suatu unsur.
Sistem-sistem yang paling menarik, setidak-tidaknya yang tercakup dalam sosiologi komunikasi massa, adalah sistem yang kompleks; di dalamnya terkait berbagai substansi.
Perluasan semiologis sistem langue/parole tidak berlangsung tanpa menimbulkan masalah. Hal itu terjadi bersamaan dengan adanya permasalahan bahwa model linguistik tak dapat diikuti lagi dan perlu diubah. Di dalam langage, tak ada yang dapat masuk ke dalam langue sebelum sebelum digunakan dalam parole, sebaliknya, tak ada parole yang mungkin hadir (artinya melaksanakan fungsi komunikasinya) bila unsur itu tidak diambil dari kekayaan langue.


0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar