TUGAS
FONOLOGI 3
A. Linguistik
Teoretis dan Terapan
Ditinjau dari sudut tujuan,
linguistik dapat dibagi atas dua bidang, yaitu linguistik
teoritis dan terapan
1) Linguistik teoritis, yaitu bidang linguistik yang
mengkaji dan mengupas bahasa untuk
mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa.
Linguistik teoritis ada ada
yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.
Linguistik yang bersifat umum
biasanya disebut linguistik umum yang berusaha
memahami ciri-ciri umum dari
berbagai bahasa. Linguistik teoritis yang khusus
berusaha menyelidiki ciri-ciri khusus
dalam bahasa tertentu saja. Linguistik teoritis
mencakup: linguistik deskriptif,
linguistik historis komparatif. Pembagian ini
dirinci satu persatu sebagi berikut:
a. Linguistik teoritis adalah cabang llinguistik
yang memusatkan perhatian pada
teori umum dan metode-metode umum dalam penyelidikan
bahasa.
b. Linguistik deskriptif disebut juga linguistik
sinkronis adalah bidang linguistik
yang menyelidiki sistem bahasa pada waktu tertentu
saja. Misalnya: bahasa
Indonesia dewasa ini, bahasa Inggris yang dipakai
oleh shakepeare, dan
sebagainya tanpa memperhatikan perkembangannya dari
waktu ke waktu. Cabang
ini terbagi atas (1) fonologi deskriptif, (2)
morfologi deskriptif, (3) sintaksis
deskriptif, (4) leksikologi deskriptif.
Fonologi meneliti tentang ciri-ciri bunyi dan fungsi
bunyi. Morfologi menyelidiki
tentang kata, unsur, dan proses pembentukannya,
sintaksis menyelidiki satuan
antara satuan-satuan itu. Morfologi dan sintaksis termasuk
dalam tataran tata
bahasa atau gramatika. Leksikologi menyangkut
perbendaharaan kata atau
leksikon.
c. Linguistik historis komparatif (diakronis) adalah
linguistik yang mempelajari dan
menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke
masa lain, serta menyelidiki
perbandingan satu bahsa dengan bahasa lain untuk
menemukan bahasa purba atau
bahasa proto sebagai bahasa induk bersama. LHK
terbagi pula atas bidang (1)
fonologi), (2) morfologi, (3) sintaksis, (4)
leksikologi historis komparatif.
Dinyatakan pula bahwa bahasa mempunyai aspek makna
atau aspek semantis.
Penyelidikan tentang aspek ini baik yang bersifat
teoritis umum maupun yang
bersifat deskriptif dan bersifat historis
komparatif, disebut semantik. Bidang ini
sering disebut semantik linguistik, untuk
membedaknnya dengan semantic filosofis, yakni cabang ilmu filsafat yang juga
menyelidiki makna.
2) Linguistik Terapan (appllied linguistics)
mencakup bidang: pengajaran bahasa,
penerjemahan, leksikologi, fonetik terapan,
sosiolinguistik terapan, pembinaan bahasa
internasional, pembinaan bahasa khusus, linguistik
medis, mekanolinguistik
B. Penjelasan
Langue, Langage dan Parole
Konsep
(dikotomis) langue/parole sangat penting dalam pemikiran
Saussure dan pasti telah membawa suatu pembaharuan besar bagi linguistik
sebelumnya. Untuk mengembangkan dikotomi yang terkenal itu, Saussure mulai
dengan sifat bahasa yang “berbentuk jamak dan beragam”, yang pada pandangan pertama
tampak bagaikan suatu realita yang tak dapat dikelompok-kelompokkan. Di samping
itu, terdapat parole yang
mencakup bagian bahasa yang sepenuhnya bersifat individual (bunyi, realisasi
aturan-aturan, dan kombinasi tanda-tanda yang terjadi sewaktu-waktu).
Jadi, dapat dikatakan bahwa langue adalah langue dikurangi parole: itu adalah
suatu institusi sosial sekaligus juga suatu sistem nilai. Sebagai sistem
sosial, langue sama sekali bukan tindakan, tidak
direncanakan sendiri: itulah sisi sosial dari langue.
Berlainan dengan langue yang merupakan institusi dan sistem, parole terutama merupakan suatu tindakan
individual yang merupakan seleksi dan aktualisasi; parolepertama-tama
terdiri dari “kombinasi dan berkat kombinasi inilah maka subjek pembicara dapat
menggunakan kode bahasa itu untuk mengungkapkan pemikiran pribadinya”
(pengertian parole yang luas ini dapat disebut wacana).
Langue dan parole: istilah ini masing-masing tidak dapat
mempunyai makna sepenuhnya kecuali dengan proses dialektik yang menghubungkannya
satu sama lain: tidak ada languetanpa parole, dan tak ada parole yang berada di luar langue, dalam
hubungan inilah terletak aktivitas linguistik yang sebenarnya.
Pemisahan langue dan parole membentuk essensi analisis linguistik;
namun, akan sia-sialah mengusulkan secara tergesa-gesa pemisahan semacam ini
untuk sistem objek, gambar, atau sikap yang belum dipelajari dari segi
semantik.Hubungan antara langue danparole di sini akan cukup dekat dengan hubungan
yang ditemukan dalam langage: secara garis besar, dapat dikatakan bahwa
penggunaan parole, yaitu
semacam pengendapannya, membentuk langue makanan.
Yang dilakukan secara arbitrer
dalam perspektif langue/parole, dapat dikemukakan pula beberapa saran
tentang sistem objek yang memang sangat berbeda, tetapi masih mempunyai
persamaan, yaitu keduanya tergantung dari kelompok pengambil keputusan (dalam
produksi).Langue itu
terbentuk dari aturan-aturan dalam penggabungan unsur-unsur yang berbeda dalam tahap
penyusunan ruangan (dekorasi). Dalam hal ini, paroleterbentuk dari berbagai variasi yang tak berarti
yang dapat dilakukan para pemakai pada suatu unsur.
Sistem-sistem yang paling menarik, setidak-tidaknya yang
tercakup dalam sosiologi komunikasi massa, adalah sistem yang kompleks; di
dalamnya terkait berbagai substansi.
Perluasan semiologis sistem langue/parole tidak berlangsung tanpa menimbulkan
masalah. Hal itu terjadi bersamaan dengan adanya permasalahan bahwa model
linguistik tak dapat diikuti lagi dan perlu diubah. Di dalam langage, tak ada
yang dapat masuk ke dalam langue sebelum
sebelum digunakan dalam parole, sebaliknya, tak ada parole yang mungkin hadir (artinya
melaksanakan fungsi komunikasinya) bila unsur itu tidak diambil dari kekayaan langue.
0 komentar:
Posting Komentar