Senin, 12 Oktober 2015

Honor Pertamaku, Ahamdulillah

                Senin, 12 Oktober 2015. Hari senin ini biasanya adalah hari aku mengajar mahasiswa jurnalistik semester 3 seperti dalam satu bulan terakhir ini. Namun berbeda dengan sebelumnya, hari ini aku tidak lagi masuk ke kelas jurnalis karena pembahasan materi sebelum Ujian Tengah Semester (UTS) telah habis.

                Senin sore ini kami delapan orang yang dipilih oleh dosen jurnalistik ku pak El Wahyudi Panggabean kembali mengadakan rapat untuk pembuatan website  jurnalis. Sebelum rapat dimulai, aku dan teman-teman menunggu kehadiran pak El (sapaan biasa kami) dan si pembuat web di kantin Pace (salah satu kantin di fkip gedung C UIR). Tidak lama kami menunggu, kemudian datanglah pak El ke kantin tersebut.

                Seperti kebiasaan kami setiap bertemu Dosen maupun senior di kampus adalah mengulurkan tangan untuk bersalaman. Namun belum sempat kami ingin menyalam dan mencium tangannya, pak El seketika memanggilku yang sedang duduk bersama teman-teman yang lain. Dalam hati aku sempat berfikir “ada apa” bapak memanggil dan sedikit menjauh dari teman-temanku. Tak lama kemudian bapak mengambil sesuatu dari kantung celana hitamnya, yaitu berupa amplop putih.

                “Ini ada sedikit untuk kamu yang telah mengajar ke semester 3 kemarin, yah sekedarnya saja sebagai apresiasi ataupun honor mengajar” kata pak El kepadaku.

Aku lumayan kaget  dengan apa yang terjadi barusan. Hanya senyum lebar kata-kata yang belum sempat ku ucapkan pada saat itu, dan kemudian bapak melanjutkan perkataannya.

“iya ambil saja ini, sekedarnya saja” tambahnya.

(aku tersenyum sangat lebar dan sulit berkata-kata)
“eehh... ya ampun. Terimakasih banyak pak”, kataku dengan malu-malu sembari menyalam tangan Pak El.
“iya nak, sama-sama”. tutup pak El.

                Pak El pun pergi ke samping kantin karena beliau sudah dipanggil temannya sejak sebelum ia memanggilku tadi. Sementara temanku dari kursi yang berbeda di kantin itu tersenyum sambil mengejekku dengan mengeluarkan suara “ciee...ciee” mereka. Seketika itu juga mereka memintaku untuk meneraktir minum di kantin itu. Awalnya aku hanya diam dengan keinginan mereka itu. Sebab aku  juga dalam kondisi “kritis” saat itu. Aku tidak tahu berapa jumlah yang ada di amplop putih itu, namun aku berfikir itulah yang menjadi andalanku sebelum dapat kiriman dari ayah.

                Tapi apa salahnya ‘gaji’ pertama ku itu aku bagikan untuk teman-teman seperjuanganku di jurnalis ini.J bahkan doa mereka juga bagus ketika aku memberikan sedikir rezeki pada hari itu. Aku juga sangat berterimakasih sama mereka yang mendukungku dari belakang untuk mengajar.



Setelah kejadian itu dan setelah peserta rapat berkumpul semua, kamipun memulai rapat di samping kantin pace. Pada hari itu juga terbentuklah 4 anggota menjadi pengurus inti, salah satunya adalah aku. Aku menjadi pengurus wanita satu-satunya yang dipilih oleh teman-teman yang lain untuk menjadi sekretaris redaksi. Menjelang jam 6 kamipun menutup rapat tersebut, dan pulang ke kost ataupun rumah masing-masing.

Setelah sampai di kos malamnya, aku langsung menelpon Ibu di kampung untuk memberitahukan kabar bahagia ini. Begitulah kebiasaanku ketika ada sesuatu yang terjadi di sini, baik itu senang maupun sedih aku selalu mencurahkannya kepada super hero ku, Mak tercinta.

“oh alhamdulillah, semoga berkah ya nak, tetap semangat ngajar sama kuliahnya”, kata Ibuku setelah kuceritakan semuanya.

“iyaa mak, senang kali kakak. Ini baru berasa nyata kalau kakak emang dah jadi assisten dosen dan ini gaji pertama, hehehe”, jawabku dengan bahagia.

“iyaa nak, baik-baik di sana ya, hati-hati selalu”,timpal Ibu.

Begitulah seterusnya percakapanku dengan Ibu via  telfon malam itu. Ibu selalu memberi motivasinya kepadaku. Semangatku hampir 100% berasal dari wanita kuat itu. Berkat doa dan usahanya juga lah aku masih bisa melanjutkan kuliahku hingga sekarang ini.#

Kamis, 20 Agustus 2015

Ingin Mandiri

Mulai hari ini akan ku tanamkan sikap:

Selagi aku masih bisa sendiri
maka akan ku lakukan sendiri
Jika benar-benar tidak bisa
Maka aku akan meminta bantuan mereka

                               Nurmaida Callysta

Rabu, 29 Juli 2015

Susahnya Jadi Orang Susah

"susahnya jadi orang susah"
mungkin itu kata-kata yang pantas aku lontarkan untuk saat ini. beberapa waktu terakhir ini memang telah menjadi momok menakutkan untukku, untuk kuliahku, dan untuk mencapai gelar sarjanaku. bagaimana tidak, untuk membayar uang kost saja aku sekarang sangat susah. eh, ngga usah itu dulu lah. untuk membeli sehelai baju kuliah, dan pernak-pernik kecil lainnya aku harus berpikir beberapa kali. memang sih itu bukannya termasuk kebutuhan primer, namun saat-saat sebelumnya itu bukan menjadi masalah buatku. beda dengan saat sekarang, dapat bertahan hidup dengan "makan" saja sudah alhamdulillah.
harus mengadu sama siapa? harus minta sama siapa? harus memaki kepada siapa jika itu semua tidak bisa terpenuhi, aku pun tidak tahu. 
aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku di kamar kos yang besarnya tidak seberapa ini. tetapi cukup untuk tempatku beristirahat dan berteduh selama aku di perantauan. 
malam ini ibu kost datang ke kamarku dengan mengetuk pintu kamar yang telah ku kunci.
"aidaa....aida....aidaa,...",panggil ibu kost dengan nada sedikit memaksa dibukakan pintu.
"iya bu...", jawabku dengan suara serak sambil membukakan pintu.
"udah tidur?, bang U**** minta uang kos", kata Ibu dengan nada sedikit segan.
"Oh, iya bu, besok aida baru dikirim", kataku dengan sok yakin jika besok ayah akan mengirimkan uang buatku.
"besok ya aida, iyalah kalau begitu",lalu ibu kost pun pergi meninggalkan kamarku.

aku lalu masuk ke kamar, menutup pintu lalu rebahan kembali ke kasur. kepalaku semakin pusing karena memang aku sedang tidak enak badan sejak tiga hari lalu, ditambah lagi dengan tagihan ibu kost tadi. semakin demam lagi rasanya aku malam ini. aku berpikir panjang, otakku berputar tujuh keliling, bagaimana caranya aku agar mendapatkan uang besok juga. 
kemudian aku mecari handphoneku, lalu mencari no ayah dan mengirimkan sebuah sms singkat yang ku ketik dengan nada ragu-ragu.
"yah, udah ada uang untuk bayar kost sama semester yah", kataku dengan tanpa basa-basi dan ku kirim sms itu ke ayah dengan harapan jawaban yang memuaskan.
beberapa menit kemudian ayah membalasnya
"Ayah baru aja nyampe dari dumai. mau buat jembatan di lubuk gaung. tapi mungkin satu minggu lag, doakan lah ya".
membaca sms dari ayah, aku terdiam dan tertunduk lesu. ingin sekali menangis, tapi tertahan. aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa. biasanya hanya Ibu yang mengerti keadaanku. namun untuk saat ini aku tidak berani untuk menghubungi ibu untuk hal-hal seperti ini. aku mengerti keadaan ibu sekarang seperti apa karena masalah keluarganya yang cukup rumit. hati dan pikirannya juga pasti lebih kacau daripada aku.
tidak lama kemudian masuk lagi sebuah sms dari ayah "atau besok sorelah ayah carikan uang 500 dulu ya nak, soalnya jembatannya kemungkinan satu minggu lagi".
aku sedikit lega walaupun amsih ada kekurangannya. 
"iya yah,soalnya tadi ibu kos nagih uang kosnya 2 bulan. semoga lancar ajalah kerjanya yah", balasku dengan sedikit air mata menetes ke pipi.

bersambung....

Pekanbaru, 29 Juli 2015

Senin, 27 Juli 2015

HARI ULANG TAHUN IBU

27 Juli 2015

            Hari ini adalah hari ulang tahun Ibu yang ke-38 tahun. Seharusnya hari ini adalah hari bahagia untuk Ibu yang bisa merayakan hari ulang tahunnya, seperti tahun lalu. Saat malam takbir idul fitri, aku dan adikku, masih bisa memberi kejutan kecil untuk Ibu. Aku dan Tanti memberi kue tart kepada ibu saat ia tengah sibuk membereskan dan membersihkan rumah untuk persiapan Idul Fitri esok. Aku, Tanti, Rian, Zya turut meramaikan suasana malam itu. Ayahpun masih bersama kami malam itu, di rumah itu. Walaupun kejutan itu tidak seberapa besarnya, namun wajah bahagia masih terpancar dari raut wajah wanita cantik yang telah melahirkanku itu.

            Berbeda dengan ulang tahunnya kali ini. Jangankan untuk bahagia, untuk tersenyum saja mungkin Ibu pun susah. Aku tanti tak lagi dapat patungan untuk memberi sesuatu dalam peringatan hari bahagia ibu. Selain keterbatasan dana, pada hari itu pun aku telah kembali ke Pekanbaru untuk kembali melanjutkan aktivitas perkuliahan. Jadi aku hanya bisa memberi ucapan dan doa yang tulus lewat sms kepada Ibu. Karena untuk meneleponnya langsung aku tak sanggup, pasti ujung-ujungnya aku menangis.

            Tapi sebenarnya bukan itu yang Ibu permasalahkan. Dia pasti mengerti dengan keadaan kami yang tidak bisa apa-apa ini. Beliau juga tidak pernah berharap untuk sesuatu yang kami beri, sebab kami pun belum bisa mencari uang sendiri untuk memberinya kado. Tapi sesuatu yang pasti membuatnya sedih adalah hubungannya yang tidak lagi harmonis dengan ayah. Namun Ibu tak menampakkan kesedihan itu. Ibu paling bisa menutupi sesuatu dengan caranya.

            Ibu, tahukah kau aku menangis saat menceritakan ini lewat tulisan. Kenapa di saat ulang tahunmu semua kesedihan mendera kita. Masih suasana lebaran. Tepatnya saat lebaran ke empat. Setelah ayah pulang dari kampung *****nya, semua tampak berbeda. Suasana rumah menjadi gaduh dengan amarah Ibu yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya.

            Masih ingat dengan cerita sebelumnya, saat lebaran ayah tak menghabiskan waktunya dengan kami. Bahkan saat hari ulang tahun ibu tiba, ayah dan ibu sudah tidak lagi bertegur sapa. Walaupun masih tinggal di rumah yang sama.

            Aku, dan adikku yang paling besar, sudah terikut dalam kesedihan itu. Berbeda dengan Rian dan Zya yang masih kanak-kanak dan hanya tau bermain. Namun Ibu melarang keras untuk kami bersedih akan hal itu.

“jadi perempuan jangan cengeng, harus kuat. Udahla jangan nangis lagi, mamak enggak papa kok. Kalian sekolah aja baek-baek, banggakan mamak dan bantu adek-adek kalian nantinya”

Itulah semangat dan pesan yang ibu ucapkan saat kami menangis jika membahas masalah dan cobaan ibu yang berat ini.

Semoga saja kami bisa mencapai semua cita-cita itu semua, dan semoga tahun-tahun berikutnya kami masih bisa merayakan hari ulang tahun Ibu tanpa ada kesedihan lagi. Aamiin Allahumma amiin... 

Rabu, 27 Mei 2015

Kembalikan Lagi Senyumku

oleh: Melly Goeslaw
Sekian lama mendung masih disiniBelum permisi tinggalkan pengap didadaKecewanya hatiku hilangkan relung hatiHampir saja ku mati mati rasa padamu
Kembalikan lagi senyumku yang manis seperti duluKu rasa kini aku tertahanMenahan luka yang amat dalam
Kembalikan lagi senyumku aku tak betah beginiSemenjak hati dan jiwa lukaKu kehilangan senyum
Sekian lama mendung masih disiniBelum permisi tinggalkan pengap didada
Kembalikan lagi senyumku yang manis seperti duluKu rasa kini aku tertahanMenahan luka yang amat dalam
Kembalikan lagi senyumku aku tak betah beginiSemenjak hati dan jiwa lukaKu kehilangan senyumku
Kembalikan lagi senyumku aku tak betah beginiSemenjak hati dan jiwa lukaKu kehilangan senyum

HA HA

Terkatung-katung menjalani hidup di dunia dan tidak tahu arahnya kemana.

 Aku ini bagaikan segelintir debu yang selalu terbang kemana angin membawanya. aku hanya mengikuti arah angin, sedangkan tak mengetahui tujuanku sebenarnya. bentukku kecil, tak tampak namun terlihat kotor dan berbahaya. Aku tak tampak, namun dampaknya bisa dirasakan semua orang yang tidak menjaga dirinya dengan baik. Barangsiapa yang menempel denganku tentu akan terkena virus yang akan menyebabkan penyakit.
Anggap saja aku seperti itu. aku sadar bukan apa-apa di dunia ini. sehingga orang dengan mudahnya mempermainkanku. aku terlalu bodoh bahkan tak ternilai. aku terlalu lemah untuk hal-hal yang menyakitkan. aku hanya bisa termangu melihat fenomena sekarang. terbelenggu tak pasti, tak tahu akan kemana. Di mana sumber kekuatan itu? aku lelah mencari, aku jenuh menghadapi, aku lemah melalui.akankah jalan pintas dan fikiran yang singkat itu akan mendominasikan keinginanku?Akankah aku tak berfikir lebih panjang lagi?


Minggu, 24 Mei 2015

JAHAT

Junjung aku setinggi langit
Agar aku tahu rasanya terbang
Hempaskan aku ke dasar tanah
Agar aku tahu rasanya jatuh

Tinggalkan aku sendiri, hingga kutahu arti sepi.

Senin, 18 Mei 2015

"Kita Harus Bahagia"

Hari ini aku melakukan suatu kebiasaan seperti hari-hari sebelumnya. di mana aku selalu membuka facebook dan berita-berita online. bukan hanya sekedar penghilang suntuk, namun untuk menambah informasi tentang dunia luar. maklum saja, di kamar kostku tidak ada televisi. heehee:") . Maka dari itu, darimana lagi aku mengetahui apa yang terjadi di luar sana jika tidak dengan membuka berita di internet. 

Sebenarnya tidak langsung membuka berita sih, tapi awalnya aku hanya membuka facebook, Lalu dari sanalah berbagai berita mulai muncul di beranda saat pertama kali aku login di fb. sebab aku banyak mengikuti berita-berita online, baik Nasional maupun Internasional. Beberapa website berita online tersebut diantaranya GoRiau.com, Kompas.com, Majalahfbi.com, Merdeka.com, Female.com, Tribunnews.com, Kapanlagi.com, Dream.co.id, dan lain sebagainya. Di dalamnya ada berita kriminalitas, kenakalan remaja, narkoba, berita selebriti, kisah inspiratif, bahkan berita yang unik dan lucu di Mancanegara. Bagiku sumber informasi tidak hanya bisa didapatkan di televisi, melainkan di luar daripada itu. ya seperti di internet inilah. 


Pada hari ini, Senin, 18 Mei 2015 aku kembali membuka layar laptopku lalu mencolokkan modem di dalamnya. Setelah koneksi internet terhubung, lalu aku mulai mengintip laman facebookku. setiap kali aku membuka fb, di beranda sudah terkumpul beberapa macam berita, baik di daerah maupun luar daerah. Dan hari ini aku membuka berita tentang tewasnya seorang mahasiswi cantik dan pintar asal Medan. Gadis cantik tersebut bernama Elviana Ambarita, kuliah di salah satu Universitas Negeri ternama di Sumatera Utara, yakni Universitas Sumatera Utara (USU) dan mengambil jurusan Ilmu Hukum.


Gadis tersebut memilih mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di kamar kostnya. Namun penyebab pasti ia bunuh diri masih diselidiki pihak yang berwajib. Dari pagi hingga malam aku mengikuti perkembangan berita tersebut dengan membaca berita yang terposting di internet. hingga pada akhirnya aku menemukan nama facebooknya. ku buka dinding ataupun kronologinya, dan ku lihat sangat banyak sekali ucapan belasungkawa dari teman, kerabat dan keluarganya. Banyak yang menyayangkan kepergian gadis yang memiliki nama panggilan Elvi itu. Namun ada sebagian yang percaya akan takdir dari Tuhan. 


Aku melihat kesedihan muncul dari masing-masing yang memposting status di kronologinya. dan ku lihat gadis itu sangat dikagumi banyak orang. selain cantik, ia juga pintar dan mudah bergaul. Ia juga mendapatkan IPK mencapai 4,00. Membaca banyak ucapan-ucapan belasungkawa seperti itu, aku juga turut sedih dan prihatin. Semoga dia ditempatkan di tempat terindah dan damai di sana. Amin ya robbal alamin.


Terkadang manusia memiliki sifat yang mudah putus asa dalam menghadapi setiap bahtera kehidupan. Merasa tidak ada jalan keluar lagi dalam menghadapi berbagai masalah sehingga memilih jalan pintas seperti itu. Seperti halnya aku, terkadang aku sangat lemah dan tidak tahu ingin berbuat apa. pernah suatu saat terlintas juga hal-hal mengerikan seperti itu, namun aku cepat-cepat menyadarkan diri sendiri dan perbanyak istighfar. Aku sadar, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. begitulah juga yang dikatakan oleh banyak orang.


"Kita hidup di dunia harus memiliki tujuan. Tujuan hidup pasti "BAHAGIA". Namun jika kebahagiaan belum juga menghampiri kita, perbanyaklah bersyukur". Begitulah ucapan yang pernah ku dengar dari mulut Ibuku. Ibu juga yang hingga kini membuatku bertahan untuk tetap hidup. Di dalam hati selalu terbesit niat ingin benar-benar membahagiakan beliau. Namun kata salah seorang dosenku di kampus, "membuat orangtua kita bahagia bukan merupakan sebuah cita-cita, melainkan sesuatu yang mutlak dan wajib dilakukan seorang anak kepada orangtuanya. hal itu bisa ditunjukkan dalam sikap keseharian dan prestasi kita". Namun sampai saat ini aku juga belum mengetahui, apakah orang tuaku terutama Ibu sudah pernah BAHAGIA akan semua sikap dan apa yang pernah aku dapat?


Dan mulai lagi aku berfikir, apakah kelak aku sudah tidak lagi hidup di dunia ini sudah benar-benar merasakan kebahagiaan? Apakah kelak jika aku tidak lagi hidup di dunia ini banyak yang merasa kehilanganku seperti kisah gadis cantik dan pintar asal Sumut tadi?.


Entahlah, mungkin itu hanya lelucon saja. pikiranku ini memang suka pergi entah kemana-mana. Yang jelas aku ingin benar-benar merasakan tujuan hidup ini yaitu BAHAGIA. Bahagia mulai dari segala hal. dari hal yang kecil sampai semua cita-citaku kelak terwujud hingga mengantarku pada kebahagiaan yang sesungguhnya. 


Semoga saja dengan usaha dan doa terutama doa dari Ibu dapat mengantarkan pada kebahagiaan yang sesungguhnya.


Dan intinya adalah, jangan cepat patah semangat dalam dan mudah berputus asa dalam menjalani hidup di dunia. tetaplah berusaha semaksimal mungkin. usaha harus juga diiringi dengan doa. jika ada masalah jangan disimpan sendiri, ceritalah pada orang yang dapat dipercaya. adukanlah keluh kesah pada zat pemberi kehidupan, Allah SWT. 


Cukup sekian untuk hari ini. kata-kata penutup di atas juga merupakan motivasi buat diriku sendiri, yang merupakan manusia paling lemah di dunia ini.

:')

Nurmaida

Senin, 11 Mei 2015

"Ada Saatnya Tu" (Part 1)

"Ada saatnya tu"
ya, kata-kata itu sudah sangat sering ku dengar
ku dengar langsung dari mulut manisnya

"Ada saatnya tu"
ya, kata-kata itu sudah tidak asing bagiku
hampir setiap waktu dia selalu mengatakannya

"Ada saatnya tu"
ya, lagi-lagi kata-kata itu
sudah hampir bosan aku mendengarnya

Tidak ada lagikah kata-kata yang lebih buruk daripada itu?
kenapa selalu itu yang dia katakan?
apa lidahnya sudah kelu untuk menyebut "slogan" yang lain?

"Ada saatnya tu"
ya ya ya
"Ada saatnya tu"
Entah sampai kapan
"Ada saatnya tu"


be continued





Sabtu, 09 Mei 2015

Tentangku, dan kita dahulu

dalam hidupku, hingga kini aku masih selalu mengingat semua tentangmu, tentang kita, dan semua kenangan lalu.
adakah kerinduan juga menghantui hari-harimu di sana?
adakah kau bahagia di sana?
aku tak pernah berfikir, kita akan terpisah secepat ini.
sejak saat akhir tahun 2012 lalu.
aku tak pernah terfikir secepat ini kita berbeda alam
yang ku tahu kita tetap terus bersama
melewati hari-hati bersama
dalam kisah suka maupun duka.
tak ingatkah kau kita pernah berjanji untuk selalu bersama?
bersama mencapai cita-cita kita.
aku masih selalu ingat
kau tak pernah berniat untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi di atas SMA
aku masih teringat
kau ingin membuka usaha setelah kau tamat SMA
usaha pabrik roti yang sangat besar
dan kau mempekerjakan ku sebagai karyawannya.
hahaha walau pun aku tahu ada sedikit canda dalam ucapanmu kala itu
tidak mungkin kau ingin temanmu yang satu ini menjadi karyawanmu kan.
karena ku tahu, kau ingin senang bersama dan susah pun kita sama.

tapi apa nyatanya?
sampai saat ini aku belum percaya takdir memisahkan kita
aku harus berjalan sendirian, berjuang sendirian
untuk mencapai cita-citaku dahulu.
cita-citaku untuk menjadi guru.

andai kau tahu, teman
banyak sekali lika-liku hidup yang aku jalani kini
hanya sekedar meraih gelar SARJANA

andai kau tahu, teman
banyak sekali kesedihan dan kesulitan yang ku hadapi saat ini
untuk menuju suatu KESUKSESAN

kadang aku berfikir
dan membandingkan dua hal yang sangat jauh berbeda
mana lebih enak hidup nyata yang akau jalani saat ini dengan kisahmu yang aku tidak tahu bagaimana rasanya, di sana?

terkadang ada rasa putus asa
selalu mengeluh dan tidak ingin melanjutkan semuanya
namun aku tetap berfikir panjang lagi
apa jadinya jika aku harus berhenti dan menyerah?
sebab aku tidak ingin melihat wajah penuh harapan dari kedua orang tuaku berubah menjadi wajah kesedihan dan kekecewaan melihat anaknya pertamanya tidak berhasil.

orang tuamu, orang tua ku juga
mereka juga tentunya ingin melihat aku sukses bukan?
sebagai pengganti anaknya yang telah pergi

Teman, sahabat sekaligus keluargaku yang terbaik
walaupun dunia kita berbeda
aku harap kau tetap mendoakanku dari kejauhan yang tak terkira ini
semoga kau tetap ingin melihat aku berhasil

Sampai saat kutuliskan rangkaian kata-kata sederhana ini
kerinduan masih selalu mengiringi hari-hari dan perjalananku di sini :')

mudah-mudahan Allah yang Maha Kuasa selalu mendengar doa kita.
aku sayang kamu teman, yesterday, today and forever.


for me, my spirit, and my beloved friend "Puput"
(1996-2012)




masa-masa kita dulu di SMA ;')

Sudah tua, kenapa tetap malas

Aku heran dengan diriku sendiri, kenapa rasa malas tidak bisa dihilangkan dari hidupku. Dalam segala hal, pasti banyak malasnya. Terkadang ingin menjadi seseorang yang selalu aktif, bergerak maju, tanpa memikirkan rasa malas, tanpa menghiraukan rasa malas. aku sudah dewasa, bisa dibilang juga sudah tua. hehe. iyalah, coba fikir! sekarang umurku sudah 20 tahun, sudah semester 4 malah. tapi kenapa tetap saja aku tidak bisa melawan rasa malas???
any something wrong?
ah, rasanya tidak ada. rasa malas itu menurutku manusiawi,kok. mungkin bukan cuma aku saja yang merasakan hal seperti ini. namun juga tak jarang orang-orang di luar sana yang bisa mengendalikan rasa malasnya. bisa menghindarkan rasa malas untuk kebaikan dan kegiatan yang positif. ah, rasanya aku ingin seperti itu. tapi kenapa selalu gagal?
begini,loh. 
contohnya saja dalam hal membuat tugas kuliah. jika dosen selesai memberiku tugas, rasanya aku ingin bisa langsung mengerjakan tugas itu meskipun jangka waktu yang diberikan masih seminggu lagi. dalam hati sudah ada niat untuk ingin segera mengerjakan tugas kuliah tersebut secepat mungkin. tapi apa nyatanya, sampai di kos aku tetap saja bersantai ria. tidur-tiduran, bbman, nonton, dan lain-lain. rasanya itu berat sekali untuk memulai. kenapa sih bisa seperti itu?
jika sudah terlintas dan teringat akan tugas tersebut, aku malah berubah fikiran. maksudnya berubah fikiran dari niat awalku tadi, yang katanya ingin secepat mungkin mengerjakan tugas itu. aku malah berfikir, "ah, nanti sajalah, kan masih lama masuk mata kuliah itu". huuftt, amazing bukan? niat awal malah seketika hilang karena adanya rasa malas itu. Ya. lagi-lagi MALAS. Capee deeh :D

Kadang aku mikir juga nih dalam hati, kenapa aku bisa seperti itu ya? mau sampai kapan aku seperti itu? kok rasanya tidak konsisten sekali jadi orang ya. mana niat baik yang pertama tadi? kok bisa jadi berubah seperti itu? berubah menjadi malas-malasan?? 
ujung-ujungnya kalau sudah seperti itu apa coba? ya tugas itu baru aku kerjakan jika sudah mepet waktunya. sampai sekarang aku juga masih heran nih, entah kenapa jika waktu sudah mepet, pasti aku lancar mengerjakan tugas itu. walaupun sangat baaanyyaaakk dampak negatif yang ditimbulkan dari sistem seperti itu. iya SKS (Sistem Kebut Semalam). salah satunya ya begadang. pasti sudah tau ya apa dampak dari begadang. Ya. keesokan harinya pasti sangat susah untuk membuka mata. sudah sekali lah untuk bangun. bahkan kadang-kadang bisa telat karena itu. di kampus juga selalu mengantuk. bahkan badan ini pun rasanya sakit semua. ah, tidak nyaman lah pokoknya.

nah, itu baru sebagian kecilnya saja ya. iya kenapa sih sudah tua, tapi tetap malas?
di kos juga malas. mau masak terkadang, malas. mau mencuci malas, mau merapikan kamar, malas, mau selalu bangun cepat malas. apalagi kalau hari libur. nah, ya sudahla pasti uring-uringan saja di kamar. kecuali ada teman yang ngajakin pergi ntah kemana gitu. barulah mulai bergerak, ya ujung-ujungnya langsung mandi. perut ini gimana kondisinya juga tidak dipikirkan. cacing-cacing berdemo di dalamnya juga masa bodo. 
aduuh. mau sampai kapan ya seperti itu?


Jumat, 08 Mei 2015

HBD

Selamat ulang tahun dosen motivator.
semoga umurnya berkah dan sukses selalu. Amin.https://plus.google.com/+WahyudiElPanggabean/posts

TUGAS TIK

Nama Tim       : RED DEVIL
Anggota           : 
1.      EVA LINDA (136210829 / 082386369429)
2.      NURMAIDA (136211531 / 085321146818)
3.      SRI DEWIROHATI (136210811 / 085363747593)
Nama Media   : Papan Materi dan Congklak
Bahan-bahan:
1.      Kardus
2.      Arang
3.      Plastik bekas makanan (snack)
4.      Botol minuman mineral
5.      Batu krikil
6.      Daun nangka
7.      Botol ale-ale
8.      Tali dari karung bekas
9.      Lem double tip
Alat-alat:
1.      Gunting
2.      Pisau cutter
3.      Jarum
Sasaran pembelajaran: Siswa-siswi SMP kelas 9 (III)
Materi             : Penggunaan partikel –pun dan kata seru
Langkah-langkah         :
-          MATERI DI KARDUS
1.      Sediakan kardus dan sediakan arang.
2.      Tulis materi yang ingin dijelaskan di kardus dengan menggunakan arang.
3.      Lubangi atas kardus menggunakan pisau cutter.
4.      Lalu sambungkan menggunakan tali dari karung agar dapat digantung di dinding.

-          CONGKLAK
5.      Sediakan kardus, arang dan potongan botol minuman yang telah dipotong.
6.      Lobangi kardus seukuran dengan botol minuman yang telah dipotong tadi.
7.      Setiap lubang diberi nomor.
8.      Gunakan batu sebagai objek permainan.

-          PUZZLE
9.      Sediakan kardus dan arang.
10.  Potong panjang dan berbentuk puzzle.
11.  Tulis kalimat atau contoh yang sesuai dengan materi.
12.  Potongan demi potongan harus saling menyambung sehingga terbentuk kalimat yang benar.
13.  Media siap digunakan.
Langkah-langkah penerapan:
1.      Gantung media di depan kelas.
2.      Pemateri lalu menjelaskan materi yang telah ditulis pada kardus.
3.      Selesai menjelaskan kocok nomor undian yang ada di dalam botol teh gelas.
4.      Nomor yang diundi maju ke depan kelas.
5.      Dua orang peserta yang mendapat undian mulai memainkan congklak.
6.      Pada congklak terdapat nomor-nomor, dan pada nomor itu terdapat hukuman seperti menyusun puzzle, menyimpulkan materi, membuat contoh, hadiah dan hukuman bagi peserta.
7.      Sedangkan hadiah terdapat pada lubang raja pada congklak.
8.      Syarat untuk mendapat hadiah setelah melewati satu putaran pada congklak.
Kelebihan media:
1.      Dari media ini, siswa dapat terpancing untuk lebih kreatif dan  memperhatikan pelajaran.
2.      Antusias siswa dalam belajar lebih tingggi, karena ada permainan/game.
3.      Dengan adanya game tersebut,siswa menjadi tidak bosan.
Kekurangan media:
1.      Tulisan yang dituliskan pada kardus tidak jelas dan berantakan, karena menggunakan bahan arang.
2.      Membutuhkan durasi yang lumayan lama untuk bermain congklak.