Minggu, 14 Desember 2014

BERITA REPORTASE

PENJUALAN TEROMPET JELANG NATAL DAN TAHUN BARU


Pesta menyambut natal dan tahun baru selalu menjadi momen yang menguntungkan bagi pedagang perlengkapan natal dan tahun baru. Khususnya pedagang dan pengerajin terompet di kota Pekanbaru.

Setiap tahun menjelang natal dan tahun baru, banyak pengerajin terompet di kota tersebut kewalahan melayani pesanan terompet dari masyarakat. Seperti yang dilakukan Wiwik dan suaminya Yatman, sepasang suami istri pengrajin terompet kertas ini tiap tahun rutin membuat terompet untuk dijual ke berbagai daerah, baik dalam maupun luar Pekanbaru. Alamat usaha mereka berada di jalan Arifin Ahmad, depan Hotel Green, kota Pekanbaru.

Wiwik dan Yatman telah menggeluti usaha pembuatan terompet sejak tahun 1998. Mereka mempekerjakan sebanyak Sembilan orang pekerja yang tidak lain adalah anggota keluarganya. Mulai dari anak hingga keponakan. Wiwik mengaku, usaha produksi terompet ini merupakan usaha warisan dari mertuanya. Usaha produksi terompet ini diberi nama “Pondok Langgeng Joyo”.

Terompet yang mereka buat pun bervariasi. Ada sekitar 12 motif, diantaranya terompet model kepala naga, bunga maupun model kerucut. Untuk persiapan tahun baru 2014, wanita 46 tahun ini  mulai membuat terompet sejak 7 bulan lalu, yakni sejak bulan Mei. “Mulai dari bulan lima itu kita siapin kertas, motong-motong kertas, penyambungan, dililit-lilit, dibentuk. Kalau sudah bulan-bulan dekat tahun baru begini sudah tinggal menyambungkan, dan menambah-nambahin saja,” ungkap wanita yang memiliki tiga orang anak ini kepada Radar Riau disela-sela kesibukannya, Minggu (14/12).

Omzet penjualannya pun kian meningkat. Sejak bulan Mei mulai pembuatan hingga sekarang ini total terompet yang telah jadi lebih dari 22 ribu terompet. Pendapatan dalam sebulan pun berkisar hingga 8 juta rupiah. Harga terompet kertas ini mulai dari 2000 hingga yang paling besar 250.000.  Pengambilannya secara grosir baik dari dalam maupun luar Pekanbaru, seperti Padang, Kepulauan Riau, dan Selatpanjang. Wiwik tidak melayani pembelian eceran.

Pesanan terompet dari grosir-grosir yang telah menjadi langganan Wiwik minimalnya adalah 5000 terompet. Pemasaran mulai dari bulan Oktober hingga malam tahun baru. Untuk luar  Pekanbaru pemesanannya bisa melalui telepon. “Pesan di luar pekanbaru lewat telepon, dp masuk, baru kita siapkan barang. Packing barang lalu mereka yang jemput,”katanya.

Salain grosir besar seperti itu, Wiwik juga melayani pembelian dari pedagang-pedagang kecil di Pekanbaru yang ingin menjajakan barang dagangannya saat natal maupun tahun baru. Biasanya pengambilan dari pedagang seperti itu berkisar dari 200 hingga 300 terompet.

Wiwik mengaku, ada grosir yang telah melakukan pemesanan barang namun tidak jadi meneruskan transaksi jual beli tersebut. Hal itu diakui Wiwik bisa menjadi keuntungan juga buat dia sebab uang pembayaran awal (DP) sudah dikirimkan. DP tersebut tidak dapat diambil lagi. “Ada yang gagal pesan, namun itu enak malahan buat kita. Karena dp sudah masuk, kalau dia gagal pesan berarti hangus. Tidak ada ruginya malah untung bagi kita,”Pungkas wanita berkulit cokelat itu.

Bisnis yang telah ia geluti bersama suami dan anaknya sejak 16 tahun yang lalu ini selalu membawa keuntungan yang besar saat momen-momen Natal dan Tahun baru seperti ini. “Barang pasti habis sampai tahun baru dan tidak pernah bersisa bahkan biasanya stok kurang. Misalnya ada yang minta lagi sudah tidak dilayani lagi. Batas pemesanan sampai jam 8 malam pada malam tahun baru itu,”tuturnya.

Bisnis terompet merupakan pekerjaan sampingan yang dilakukan Wiwik. Dalam kesehariannya Ibu hampir setengah abad ini biasa menjual mainan anak-anak di rumahnya. Selain itu ia juga berjualan es kelapa muda dan makanan lain seperti mie goreng dan mie ayam. Ia  mengatakan akan terus melanjutkan dan mengembangkan bisnis terompet ini setiap tahun. (Aida)