27 Juli 2015
Hari ini adalah hari ulang tahun Ibu yang ke-38 tahun.
Seharusnya hari ini adalah hari bahagia untuk Ibu yang bisa merayakan hari
ulang tahunnya, seperti tahun lalu. Saat malam takbir idul fitri, aku dan
adikku, masih bisa memberi kejutan kecil untuk Ibu. Aku dan Tanti memberi kue
tart kepada ibu saat ia tengah sibuk membereskan dan membersihkan rumah untuk
persiapan Idul Fitri esok. Aku, Tanti, Rian, Zya turut meramaikan suasana malam
itu. Ayahpun masih bersama kami malam itu, di rumah itu. Walaupun kejutan itu
tidak seberapa besarnya, namun wajah bahagia masih terpancar dari raut wajah
wanita cantik yang telah melahirkanku itu.
Berbeda dengan ulang tahunnya kali ini. Jangankan untuk
bahagia, untuk tersenyum saja mungkin Ibu pun susah. Aku tanti tak lagi dapat patungan untuk memberi sesuatu dalam
peringatan hari bahagia ibu. Selain keterbatasan dana, pada hari itu pun aku
telah kembali ke Pekanbaru untuk kembali melanjutkan aktivitas perkuliahan. Jadi
aku hanya bisa memberi ucapan dan doa yang tulus lewat sms kepada Ibu. Karena
untuk meneleponnya langsung aku tak sanggup, pasti ujung-ujungnya aku menangis.
Tapi sebenarnya bukan itu yang Ibu permasalahkan. Dia
pasti mengerti dengan keadaan kami yang tidak bisa apa-apa ini. Beliau juga
tidak pernah berharap untuk sesuatu yang kami beri, sebab kami pun belum bisa
mencari uang sendiri untuk memberinya kado. Tapi sesuatu yang pasti membuatnya
sedih adalah hubungannya yang tidak lagi harmonis dengan ayah. Namun Ibu tak
menampakkan kesedihan itu. Ibu paling bisa menutupi sesuatu dengan caranya.
Ibu, tahukah kau aku menangis saat menceritakan ini lewat
tulisan. Kenapa di saat ulang tahunmu semua kesedihan mendera kita. Masih
suasana lebaran. Tepatnya saat lebaran ke empat. Setelah ayah pulang dari
kampung *****nya, semua tampak berbeda. Suasana rumah menjadi gaduh dengan
amarah Ibu yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya.
Masih ingat dengan cerita sebelumnya, saat lebaran ayah
tak menghabiskan waktunya dengan kami. Bahkan saat hari ulang tahun ibu tiba,
ayah dan ibu sudah tidak lagi bertegur sapa. Walaupun masih tinggal di rumah
yang sama.
Aku, dan adikku yang paling besar, sudah terikut dalam
kesedihan itu. Berbeda dengan Rian dan Zya yang masih kanak-kanak dan hanya tau
bermain. Namun Ibu melarang keras untuk kami bersedih akan hal itu.
“jadi
perempuan jangan cengeng, harus kuat. Udahla jangan nangis lagi, mamak enggak
papa kok. Kalian sekolah aja baek-baek, banggakan mamak dan bantu adek-adek
kalian nantinya”
Itulah semangat dan
pesan yang ibu ucapkan saat kami menangis jika membahas masalah dan cobaan ibu
yang berat ini.
Semoga saja kami bisa
mencapai semua cita-cita itu semua, dan semoga tahun-tahun berikutnya kami
masih bisa merayakan hari ulang tahun Ibu tanpa ada kesedihan lagi. Aamiin
Allahumma amiin...
0 komentar:
Posting Komentar