mungkin itu kata-kata yang pantas aku lontarkan untuk saat ini. beberapa waktu terakhir ini memang telah menjadi momok menakutkan untukku, untuk kuliahku, dan untuk mencapai gelar sarjanaku. bagaimana tidak, untuk membayar uang kost saja aku sekarang sangat susah. eh, ngga usah itu dulu lah. untuk membeli sehelai baju kuliah, dan pernak-pernik kecil lainnya aku harus berpikir beberapa kali. memang sih itu bukannya termasuk kebutuhan primer, namun saat-saat sebelumnya itu bukan menjadi masalah buatku. beda dengan saat sekarang, dapat bertahan hidup dengan "makan" saja sudah alhamdulillah.
harus mengadu sama siapa? harus minta sama siapa? harus memaki kepada siapa jika itu semua tidak bisa terpenuhi, aku pun tidak tahu.
aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku di kamar kos yang besarnya tidak seberapa ini. tetapi cukup untuk tempatku beristirahat dan berteduh selama aku di perantauan.
malam ini ibu kost datang ke kamarku dengan mengetuk pintu kamar yang telah ku kunci.
"aidaa....aida....aidaa,...",panggil ibu kost dengan nada sedikit memaksa dibukakan pintu.
"iya bu...", jawabku dengan suara serak sambil membukakan pintu.
"udah tidur?, bang U**** minta uang kos", kata Ibu dengan nada sedikit segan.
"Oh, iya bu, besok aida baru dikirim", kataku dengan sok yakin jika besok ayah akan mengirimkan uang buatku.
"besok ya aida, iyalah kalau begitu",lalu ibu kost pun pergi meninggalkan kamarku.
aku lalu masuk ke kamar, menutup pintu lalu rebahan kembali ke kasur. kepalaku semakin pusing karena memang aku sedang tidak enak badan sejak tiga hari lalu, ditambah lagi dengan tagihan ibu kost tadi. semakin demam lagi rasanya aku malam ini. aku berpikir panjang, otakku berputar tujuh keliling, bagaimana caranya aku agar mendapatkan uang besok juga.
kemudian aku mecari handphoneku, lalu mencari no ayah dan mengirimkan sebuah sms singkat yang ku ketik dengan nada ragu-ragu.
"yah, udah ada uang untuk bayar kost sama semester yah", kataku dengan tanpa basa-basi dan ku kirim sms itu ke ayah dengan harapan jawaban yang memuaskan.
beberapa menit kemudian ayah membalasnya
"Ayah baru aja nyampe dari dumai. mau buat jembatan di lubuk gaung. tapi mungkin satu minggu lag, doakan lah ya".
membaca sms dari ayah, aku terdiam dan tertunduk lesu. ingin sekali menangis, tapi tertahan. aku tidak tahu harus mengadu kepada siapa. biasanya hanya Ibu yang mengerti keadaanku. namun untuk saat ini aku tidak berani untuk menghubungi ibu untuk hal-hal seperti ini. aku mengerti keadaan ibu sekarang seperti apa karena masalah keluarganya yang cukup rumit. hati dan pikirannya juga pasti lebih kacau daripada aku.
tidak lama kemudian masuk lagi sebuah sms dari ayah "atau besok sorelah ayah carikan uang 500 dulu ya nak, soalnya jembatannya kemungkinan satu minggu lagi".
aku sedikit lega walaupun amsih ada kekurangannya.
"iya yah,soalnya tadi ibu kos nagih uang kosnya 2 bulan. semoga lancar ajalah kerjanya yah", balasku dengan sedikit air mata menetes ke pipi.
bersambung....
Pekanbaru, 29 Juli 2015
Pekanbaru, 29 Juli 2015
1 komentar:
Selalu berdoa dan bersyukur dengan apa yang ada saat ini.
semangat yaa .
Posting Komentar